Reformasi, Bukan Diskriminasi Budaya

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 12 March 2014 - 14:58 | View : 1021

Follow Twitter: @bigmansirait

Sesungguhnya topik ini biasa-biasa saja. Tetapi bisa menjadi tidak biasa jika diperdebatkan dalam kerangka pikir berbagai aliran. Istilah aliran sengaja dipakai sebagai bentuk lebih sempit dari denominasi. (Denominasi dalam pengertian ini adalah satu keyakinan/ketentuan organisasi gereja). Harap maklum, satu denominasi juga bisa berbeda dalam masalah ini. Dalam perspektif sosiologis, budaya berarti sebuah konsep, tindakan atau adat istiadat/kebiasaan. Budaya yang tinggi akan membuahkan nilai hidup yang tinggi pula. Dan tingginya budaya, berkaitan erat dengan tingginya tingkat keilmuan masyarakatnya. Jadi budaya dapat dikatakan sebagai identitas dan bukti kualitas hidup masyarakatnya. Sementara, dalam perspektif teologis, budaya sangat berkaitan erat dengan kemampuan manusia dalam membangun relasi dengan sesamanya. Semakin tinggi pemahaman seseorang akan kebenaran maka akan semakin tinggi pula gairah kasihnya terhadap sesama. 

        Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:26-28). Kepada manusia, Allah juga memberikan sesuatu amanat yang disebut dengan mandat budaya. Mandat budaya itu berupa  ‘tugas’ untuk berkembang biak menjadi sebuah komunitas yang saling menolong dan bertanggung jawab atas pengelolaan alam semesta (Kejadian 2:15). Dalam Matius 22:37-40, disebutkan pula bahwa sebagai mahluk beragama, manusia dituntut untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi.  Dan sebagai mahluk berbudaya manusia dituntut untuk mengasihi sesamanya seperti mengasihi diri sendiri. Jadi budaya tertinggi umat manusia itu adalah kemampuannya hidup berdampingan dalam kedamaian karena kasih.

Lalu, bagaimana dengan budaya keseharian seperti upacara adat-sitiadat? Apakah ini sah atau tidak? Diterima atau ditolak? Perdebatan ini sudah terjadi sejak lama, hingga H.Richard Niebuhr, seorang teolog imigran Jerman kelahiran Amerika, menulis sebuah buku berjudul Kristus dan Budaya pada tahun 1951.(Catatan: Penulis belum lahir pada waktu itu). Dalam bukunya itu, Niebuhr menggambarkan beberapa sikap terhadap budaya. Pertama sikap radikal, yaitu menolak budaya. Dalam I Yoh 2: 15 – 17 dikatakan, manusia harus menolak dunia. Bagi kelompok ini, kata dunia berarti budaya. Penafsiran mereka, budaya itu dosa dan harus dihancurkan. Wujud penghancurannya sendiri beraneka ragam. Sangat disayangkan bahwa kata dunia yang lebih menunjuk pada sifat kedagingan/duniawi, diterjemahkan sebagai budaya. Budaya adalah bagian dan produk manusia. Jika budaya ditolak, maka berarti manusianya pun harus ditolak. Manusia dan budaya itu melekat menjadi satu. Padahal kesalahan terbesar bukanlah pada budayanya, tetapi pada manusianya. Budaya sangat tergantung kepada perilaku manusia. Jadi jika budaya hendak dibereskan, maka yang perlu dibereskan adalah manusia yang memproduksi budaya itu.

Yang kedua adalah sikap akomodatif, yaitu sikap oposisi terhadap yang pertama (yang menolak budaya). Bagi kelompok kedua ini, budaya adalah bagian dari hidup manusia. Bagi manusia, budaya itu sejajar dengan agama. Asumsinya Tuhan datang untuk menggenapi, bukan meniadakan Taurat (Matius 5:17). Sikap kelompok ini ada benarnya, yaitu budaya tidak bisa dibuang begitu saja. Tetapi segera muncul persoalan baru, yaitu  ketika kelompok ini menyamakan budaya dengan agama. Karena ayat yang dijadikan sebagai argumen tidak membicarakan hal yang dimaksud, tetapi lebih pada penggenapan harapan Mesias yang ada pada Taurat, dan tuntutan pada orang Yahudi untuk tidak mengabaikan Injil dan mengkonfrontasikannya dengan Taurat.

       Sikap yang pertama kebanyakan didominasi oleh kaum fundamentalis, sementara yang kedua oleh kaum liberalis. Sikap ketiga merupakan  perpaduan sikap pertama dengan yang kedua. Dan sikap keempat merupakan paradoks. Namun kedua sikap yang disebut terakhir ini tidak dibahas mengingat keterbatasan ruang dan juga posisi yang kurang jelas dari keduanya. Sikap ketiga dan keempat ini lebih merupakan sintetis yang semu, rancu dan tidak final dari sikap pertama dan kedua.

Sikap kelima adalah pembaharuan. Matius 5:45 mengatakan, bahwa Tuhan menerbitkan matahari bukan hanya untuk orang benar tetapi juga untuk orang berdosa. Ayat ini memberi ‘tugas’ kepada kita bagaimana menjadikan orang-orang berdosa itu supaya mengenal Tuhan. Jadi bukan bagaimana membuang apalagi menghancurkan mereka. Artinya, jika kita menilai suatu budaya berbau mistis, tidak benar, dan seribu permasalahan lainnya, marilah kita bereskan alias kita perbaharui. Pembaharuan di sini bertujuan untuk membawa budaya kembali kepada Khaliknya. Tujuan budaya itu dibenarkan oleh kebenaran Alkitab.

            Seperti Kristus memperbaharui kita melalui penebusan, bukankah kita juga dipanggil untuk memperbaharui dunia ini dengan menjadi terang dan garam? Ingat, budaya itu tergantung pada manusianya. Artinya, kalau manusianya benar karena sudah diperbaharui maka budayanya pasti dalam kerangka memuliakan Tuhan, karena sudah diperbaharui. Jadi yang dipentingkan adalah manusianya, bukan budayanya. Yang dipentingkan adalah isinya, bukan kulitnya. Tugas kita umat kristiani adalah memberitakan Injil, bukan menghancurkan budaya. Kita tidak dipanggil mengalahkan atau bahkan menistakan budaya, namun memperbaharui bukan mengutuki. Tugas mulia untuk membenahi kekisruhan yang terjadi di dalam dunia ini.

Sangat tidak bisa dibayangkan jika suatu budaya – karena alasan berbau mistis – harus dihancurkan. Mengapa? Karena dengan tindakan itu berarti kita harus menghancurkan seluruh budaya di Indonesia, bahkan dunia. Harap dimaklumi, sebelum Kristen masuk ke Indonesia mau pun  ke dunia lainnya, yang namanya budaya itu sudah ada – baik yang berbau mistik atau tidak. Jika ingin konsisten, maka pakaian kita pun harus sesuai dengan manusia pertama, yaitu dari kulit binatang, bukan kain (Kejadian 3:21). Dan yang membuat pakaian itu harus Tuhan, karena jika buatan manusia pasti ‘penuh dosa dan jampi-jampi’. Bahkan apa yang dibuat Tuhan untuk manusia di Taman Eden, itupun dalam kondisi manusia telah jatuh ke dalam dosa. Tuhan yang membuat tidak berdosa tetapi manusia yang memakainya berdosa.

Berdasarkan hemat penulis, ajaran Kristen  yang benar tentu tidak akan menyisakan kebingungan.  Perlawanan karena kebenaran itu berbeda dengan kebingungan. Karena itu berbagai sikap anti budaya seperti pembakaran ulos dalam budaya Batak harus dikaji ulang. Rumah Anda – khususnya yang ada di real estate pun mungkin perlu dibakar, mengingat kebanyakan pembangunan rumah pada waktu naik atap dipasangi buah pisang dan lain sebagainya menurut keyakinan mistis tukang yang mengerjakannya. Dan yang lainnya, bahkan mungkin semua yang kita pakai harus dibakar juga. Lalu apa makna kemerdekaan oleh Kristus kalau kita masih terjajah. Perlu dibaca tuntas : I Korintus 8:1-13; I Korintus 6:12-20. Tidak ada berhala dalam makanan atau pakaian. Berhala ada pada apa yang Anda yakni termasuk memberhalakan pembakaran, yaitu dengan selalu membenarkan diri, dengan memakai ayat suci . Akhirnya Mata Hati mengucapkan, “Selamat menjadi manusia baru yang memperbaharui budaya untuk puji hormat bagi Tuhan kita Yesus Kristus

See also

jQuery Slider

Comments

Top