KEMATIAN, JALAN MENUJU KEHIDUPAN

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 12 March 2014 - 14:29 | View : 1250

Follow Twitter @bigmansirait

Jumat Agung, sebuah peringatan sakral umat kristiani, yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk terus-menerus diperingati umat sebagai orang percaya (Lukas 22:19-20). Ya, kematian kudus, di mana darah kudus tertumpah untuk menyucikan manusia yang berdosa. Karena itu, penyebutan Jumat Agung amat sangat tepat untuk melukiskan karya agung Yesus Tuhan. Namun, ini bukanlah peristiwa yang berjalan mudah, bahkan sangat menegangkan. Adalah Taman Getsemani, menjadi saksi bisu pergumulan berat Yesus Kristus dalam mengemban misi suci yang dengan sukarela dipilih-Nya. Di taman ini, di kala para murid tertidur lelap, Yesus justru bergumul sendirian dalam ketegangan yang tak terbilang. Pergumulan atas cawan yang berisi murka Allah. Murka yang ditumpahkan karena dosa manusia.  

Kesucian Allah tak dapat menolelir dosa, murka Allah tak mungkin ditiadakan. Dan, inilah yang menjadi persoalan manusia. Murka Allah adalah kematian manusia sebagai akibat dosa. Semua manusia, bukan hanya sebagian. Itu sebab, untuk penyelamatan dari kebinasaan akibat dosa harus ada yang menjadi korban murka Allah. Yesus Kristus memilih itu dalam kerelaan-Nya (Filipi 2: 6-9) untuk menyelamatkan manusia dengan menjadikan diri-Nya sebagai korban menerima murka Allah.

Di Getsemani, di keheningan malam, Yesus menaikkan doa yang menggambarkan pergumulan-Nya yang berat itu: “Ya, Bapa jikalau boleh, biarlah cawan ini lalu dari-Ku”. Sebuah permintaan yang tak berhenti di situ, karena berlanjut pada sikap rela yang luar biasa: “Namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu-lah yang jadi”. Ya, kehendak murka Allah.

Tapi kini yang berhadapan dengan murka itu bukanlah manusia yang berdosa, melainkan Tuhan Yesus Kristus. Dan, kesendirian-Nya, karena murid yang diajak berdoa tertidur, adalah lukisan betapa manusia tidak mengerti apa yang sedang dijalani-Nya. Yesus bergumul berat untuk menyelamatkan manusia, tetapi manusia justru tertidur lelap. Tuhan Yesus telah menang, Dia melewati jalan ketakutan yang mencekam. Kini Dia tenang, sehingga para penangkap-Nya kecele membawa pedang karena Tuhan Yesus tidak melakukan perlawanan. Bahkan sikap heroik Petrus yang menebas hingga telinga hamba imam, disebutnya sebagai tindakan yang tidak perlu. Tuhan Yesus menempelkan kembali telinga itu.

Petrus mampu menebasnya, tapi tak mampu memasangnya kembali. Tuhan Yesus berkuasa, namun tak melakukan perlawanan apa pun, karena misi-Nya yang sangat jelas. Namun bagi murid semuanya tak jelas, sehingga mereka mengalami kebingungan yang amat sangat atas tindakan Tuhan Yesus menyerahkan diri. Murid kacau balau, semua berusaha untuk menyelamatkan diri. Di Taman Getsemani terbukti manusia adalah pendosa, sekalipun manusia yang hendak ditebus-Nya, tapi manusia itu pula yang menangkap dan meninggalkan-Nya.

Ah, Getsemani, kenangan yang menyakitkan atas sebuah pengkhianatan lewat sebuah ciuman. Ini adalah peran Yudas yang penuh kemunafikan. Mencium tangan Yesus Sang Guru untuk menghabisi-Nya. Semua lakon manusia di Taman Getsemani, sekalipun berbeda namun satu nada, yaitu mencintai diri sendiri. Pergumulan usai, pengadilan yang tak adil menanti-Nya. Semua berlangsung dalam kerusakan moral manusia. Ya, moral yang tercabik-cabik karena manusia tak lagi mencintai kebenaran Allah.

Perjalanan penderitaan Tuhan Yesus Kristus berakhir di Bukit Golgota. Di sana, dalam kehinaan salib, Dia disalibkan sebagai pendosa yang tidak pernah berbuat dosa. Ya, Yesus Kristus Tuhan ada di kayu salib karena menanggung dosa, bukan karena berbuat dosa. Dia menjadi terhina karena kehinaan manusia yang berdosa. Ditanggung-Nya semua dalam kerelaan kasih-Nya yang amat besar itu. Tak mudah memahami kematian-Nya, bahkan tak mungkin. Roh Kuduslah yang telah memampukan kita.

Fakta kematian Kristus seharusnya menginspirasi perjalanan gereja. Perjalanan yang seharusnya benar dan berani menyuarakan kebenaran sudah tak lagi jelas. Semangat salib semakin memudar karena gereja terpusat pada kepuasan diri belaka. Semua berita hanya mengumbar tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahkan ketika mengingat kematian Yesus Kristus Tuhan yang telah diperintahkan, di dalam Perjamuan Kudus, umat justru mengingat kesulitan dirinya, sakitnya, dengan dalih darah Yesus berkuasa. Ironis, perintah yang sangat jelas untuk mengingat penderitaan kematian Yesus Kristus dalam roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus, kini diselewengkan.

Kesetiaan gereja kepada pengorbanan Yesus Kristus Tuhan terusik sudah. Kebanyakan umat tak lagi mampu melihat kemenangan didalam kematian. Tak lagi mampu mengingat karya Kristus di kayu salib dengan sejenak melupakan keperluan diri. Tak lagi mampu hidup menyangkal diri dan memikul salib. Ya, jika Yesus Kristus tidak mati, maka apa nilai pengorbanan-Nya. Dan, Dia yang telah mati itu bangkit pada hari ketiga sesuai dengan apa yang telah dikatakan-Nya sebelum kematian-Nya. Dan sudah seharusnya orang percaya menaklukkan diri kepada-Nya, dan tak membuat nama Yesus sebagai mantera pemuas selera kemanusiaan atas nama iman.

Kematian yang berujung pada kebangkitan merupakan fakta yang tak terbantah, tercatat dalam sejarah hidup manusia, dan memberi dampak nyata bagi kehidupan hingga kini. Paulus dengan jitu melukiskan, bahwa tanpa kematian tidak akan ada kehidupan. Dia mengambil realita biji yang tak akan pernah menjadi pohon jika tak memecah diri terlebih dahulu. Keberanian dan kerelaan biji terpecah menjadi kontribusi utama dalam menghasilkan sebuah pohon yang berbuah. Dan, dalam perspektif teologis, kematian Kristus adalah kerelaan berdasarkan kasih-Nya yang tak terukur, yang memberikan harapan nyata dalam kebangkitan Nya.

Orang percaya telah menjadi pemenang di dalam Kristus, di dalam kebangkitan-Nya. Namun jangan terjebak eforia kebangkitan belaka dan melupakan pengorbanan-Nya di dalam kematian. Kematian dan kebangkitan harus saling mengikat dan berjalan pararel. Tak boleh dipisahkan sebagaimana kebanyakan sikap gereja masa kini, yang hanya bersukaria dalam kuasa kebangkitan, tapi tak pernah rela memikul salib.

Memelintir kematian sebagai kemenangan tanpa penderitaan, karena diikuti kebangkitan. Ini adalah kejahatan gereja dalam berkelit dari pangilan menyangkal diri dan memikul salib. Umat Kristen tak lagi suka memikul salib, bahkan ada pengkhotbah yang mengatakan, “Yesus Kristus telah menderita untuk kita, memikul salib kita, maka kita tidak lagi akan menderita, tak perlu memikul salib”. Padahal dengan tegas Paulus berkata dalam Filipi 1:29, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

Tidak ada kemenangan dalam kebangkitan tanpa penderitaan dalam kematian. Namun, penderitaan bukanlah persoalan yang terlalu besar, karena penderitaan dalam kesadaran dan kerelaan justru adalah kehormatan bagi orang beriman, kecuali iman imitasi. Pengujian akan berjalan, lalang dan gandum akan semakin nyata. Akhirnya, sebagai orang percaya jangan pernah menghindar dari jalan penderitaan yang terhormat untuk menuju kemenangan yang sejati. Ingat, kematian di dalam Kristus (mati terhadap dosa) adalah jalan menuju kebangkitan (hidup dalam Kristus) di kekekalan.

Selamat merenungkan Jumat Agung dengan sikap yang agung, dan selamat Paskah dalam kesukacitaan.

See also

jQuery Slider

Comments

Top