Anugerah Allah Tidak Sia-sia (1 Korintus 15:8-11)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:29 | View : 432
anugerah.jpg

Kurang percaya kebangkitan Kristus.  Persoalan pelik Korintus yang minggu lalu telah disinggung.  Hal itu terjadi lantaran pengaruh orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada kebangkitan orang mati. Kepada mereka yang telah terpengaruh, yang tidak percaya bahwa Kristus, inti berita Injil itu telah bangkit dari maut, Paulus dalam suratnya kemudian mengingatkan, sekaligus menyegarkan kembali tentang apa itu Injil yang benar.  Artikel sebelumnya juga telah disinggung bagaimana Injil yang benar tidak saja adalah kisah yang faktual, yang benar-benar terjadi, yang di dalamnya ada banyak saksi. Tidak hanya para rasul, tapi juga ratusan lain yang menyaksikan Kristus menampakkan diri setelah kebangkitanNya dari maut.  Tapi Injil itu juga dialami sendiri oleh Paulus, rasul yang mengajarkan Injil itu, bahwa Kristus rela menjadi manusia, mati disalibkan lalu bangkit dari antara orang mati. Bukti-bukti tersebut tentu sudah lebih dari cukup. 

Perjumpaan dengan Yesus menimbulkan kesan tersendiri bagi Paulus.  Bagaimana tidak, peristiwa Yesus menampakkan diri kepadanya pada akhirnya menjadi titik balik kehidupan rasul yang sebelumnya bernama Saulus ini.  Pertemuan yang mendatangkan perubahan  dari hidup lama ke hidup baru.  Paulus melihat dirinya tidaklah pantas menerima anugerah sebegitu besarnya.  Tidak layak dia mendapat kesempatan sekaligus pengalaman langsung bertemu dengan Kristus seperti itu. Paulus mengibaratkan dirinya bak bayi yang lahir sebelum waktunya (premature) (15:8).  Bayi yang seharusnya perlu lebih lama lagi mendapat asupan gizi melalui ibunya, yang secara fisik dan mental masih perlu waktu lebih lama untuk membentuk tubuh dan mental yang “sempurna”.   Bayi yang belum layak lahir, yang belum layak mendapatkan kesempatan merasai hidup baru diluar kandungan sang ibu, beroleh anugerah dari Allah untuk lekas-lekas merasainya. 

Mirip seperti bayi premature, Paulus merasa bahwa dirinya sebenarnya tidak layak memperoleh kehidupan yang baru.  Lebih tidak layak lagi disebut rasul. Kalaupun disebut Rasul, maka Paulus rela disebut sebagai rasul yang paling hina (15:9).  Paulus sering menggunakan frasa semacam ini untuk menggambarkan dirinya sendiri (band. II Kor 12:11; Ef 3:8; I Tim 1:15).  Hal ini tidak terlepas dari masa lalu buruk, pengalaman buruk Paulus.  Tindakan jahat yang pernah dilakukannya terhadap jemaat Tuhan.  Paulus pernah menganiaya mereka yang percaya kepada Kristus.  Bahkan sering menganiaya orang yang justru percaya kepada pribadi Injil yang diwartakannya sekarang (15:9).   

Dari pernyataan Paulus tersirat kontras yang ingin ditunjukkan kepada jemaat Korintus.  Seolah Paulus ingin berkata, jika dirinya, yang sesungguhnya adalah orang jahat, melebihi orang-orang di Korintus, memperoleh anugerah yang begitu besar Allah, bukankah orang-orang Korintus justru “lebih layak” menerima anugerah tersebut. Masakan anugerah sebesar itu disia-siakan, tak diresponi apalagi dilakoni. 

Hanya Karunia

Mendapat karunia sebegitu besar tidak lantas membuat Paulus jumawa.  Berbangga diri dan unjuk dada.  Dia justru menunjukkan kepada umat di Korintus melalui suratnya, bahwa hanya oleh karunia sahaja dia dapat seperti sekarang.  Hanya oleh karunia, Paulus dapat ada sebagaimana dirinya sekarang ini (15:10). Ketika Paulus dapat melakukan tugas sebagai Rasul.  Mengajar, mewartakan Injil dan berjuang secara militan demi apa yang dipercayainya. Berjuang demi apa yang dikaruniakan kepadanya, bahkan dia menyebut yang dikerjakannya itu jauh lebih keras, lebih gigih dari para rasul lain. Namun demikian tidak sedikitpun kalimat keluar dari mulutnya bahwa itu semua atas kehebatan dia.  Tidak.  Justru Paulus hendak menunjukkan kepada umat di Korintus bahwa anugerah yang diberikan kepadanya itu tidak sia-sia (15:10).  Dan hanya oleh karunia Allah semata, hanya karena kesediaan Allah menyertai dia, maka Paulus dapat melakukan semua itu (15:10). Paulus sadar betul bahwa panggilan, karunia, dan pelayanan, semua itu berkaitan erat dengan otoritas kedaulatan Allah. Dia menegaskan, bahwa dirinya dapat bekerja lebih keras dari para Rasul lainnya bukan semata karena kehebatan dia.  Sebab dia tahu bahwa Allah adalah sumbernya.  Bob Utley melihat keseimbangan seperti juga terdapat dalam (Yoh 15:5; Flp 4:13, atau Flp 2:12-13). Anugerah atau karunia yang sama yang juga bekerja pada para rasul, pun dirinya, sekaligus yang membuat orang di Korintus menjadi percaya (15:11).  

Apa yang dijelaskan Paulus adalah bukti bahwa Injil itu bekerja.  Bahwa Injil yang benar itu berkuasa menobatkan orang se-keras Paulus, juga sama berkuasa membuat orang Korintus menjadi percaya.  Injil yang sama juga menolong orang, memelihara, sekaligus memantik orang untuk mengaktualisasi anugerah yang di dapat dengan atau dalam tindakan konkrit.  Di sini, seperti dijelaskan Paulus butuh tindakan aktif dari orang, dalam hal ini adalah orang Korintus,  untuk tetap percaya, tetap teguh berpegang padanya, melekat padanya seperti pengajaran yang telah diberitakan Paulus kepada mereka (15:2).  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top