Kebangkitan Bukan Bualan (1 Korintus 15:1-7)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:26 | View : 647
resurrection.jpg

Di zaman yang sudah sepuh (tua) seperti ini sering kita temui para penganjur-penganjur palsu, para pengajar-pengajar palsu. Mereka umumnya begitu militan memberitakan Injil lain, Injil berbeda dari yang tertulis dalam kitab suci. Resah karenanya?  Tak perlu! Sebab Yesus sendiri telah mengingatkan kepada umat. 

Jangankan di jaman ini, jauh sebelumnya, ketika Yesus dikubur pun sudah ada konspirasi untuk menyelewengkan berita Injil itu. Lihat saja muslihat para rohaniawan Yahudi (imam-imam dan tua-tua) bersepakat menyogok para serdadu penjaga kubur Yesus, agar menyebarkan isu bahwa jasad Yesus dicuri oleh murid-muridNya. (Mat:28:12-13).  Matius juga mencatat, bahwa cerita palsu itu terus dipercaya oleh orang-orang yahudi, bahkan sampai sekarang ini (ketika Matius menuliskan Injilnya), sekitar tahun 60an) berita palsu itu masih beredar dan dipercaya.  Bukan mustahil berita Palsu itu juga terus berkembang hingga ke jemaat Korintus.  Hal ini yang melatari Paulus untuk kembali mengingatkan orang Korintus tentang Injil yang benar, melalui suratnya.

Injil yang Benar

Persoalan di jemaat Korintus memang sangatlah kompleks.  Kali ini yang disinggung Paulus dalam suratnya terkait persoalan ketidakpercayaan sebagian jemaat Korintus tentang kebangkitan Yesus 15:12.  Hulu ketidakpercayaan ini mungkin saja, pertama lantaran terpengaruh pada ajaran Saduki.  Saduki adalah golongan aristokrat Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M. Saduki umumnya adalah kaum imam yang juga bertanggung jawab atas ibadah di Bait Suci, namun menolak konsep kebangkitan orang mati, dan keberadaan malaikat dan roh.  Kedua, adalah adanya pengaruh atas berita-berita palsu yang beredar ke telinga mereka, bahwa jasad Yesus telah dicuri, seolah-olah hendak mengatakan, kebangkitan Yesus itu adalah reka-reka para murid.  Kubur yang kosong bukan karena Yesus bangkit, tapi karena mayatnya dicuri. 

Terhadap ketidakpercayaan itu  Paulus mengingatkan kembali tentang apa yang pernah diajarkannya kepada orang Korintus.  Bahwa kabar Injil yang benar bukanlah seperti isu yang beredar di antara mereka.  Injil yang benar adalah Injil seperti yang telah diberitakannya, yang oleh Injil itu jemaat menjadi percaya dan diberi kemampuan untuk tetap teguh berdiri dalam percayanya itu. Terlebih, Injil yang sama juga berkuasa menyelamatkan orang yang berpegang teguh padanya (15:2).

Apa yang diberitakan oleh Paulus bukanlah hasil reka-reka dia.  Tapi diwartakan seperti apa yang tertulis dalam kitab suci. Bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa manusia, sesuai dengan Kitab Suci (15:3).  Bahwa, Yesus juga telah dikuburkan, dan dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (15:4).

Bukan saja selaras dengan yang diwartakan dalam kitab suci,  Injil yang benar, seperti diajarkan Paulus merupakan peristiwa sejarah yang faktual.  Sebab ada banyak saksi orang yang menyaksikan ketika Yesus disalib dan wafat. Tapi juga tidak sedikit jumlah orang yang menyaksikan ketika dia sudah bangkit.  Diantaranya, seperti disebutkan Paulus adalah: Kefas, seorang rasul yang sebelumnya menyangkali Kristus (15:5).  Lalu Paulus menyebut saksi lain, yaitu, ada lima ratus orang sekaligus yang ditemui oleh Yesus.  Bahkan Paulus menyebut kebanyakan di antara mereka masih hidup sampai sekarang (ketika surat Korintus ditulis tahun 55/56 ) 15:6.  Saksi-saksi penting lain yang disebutkan Paulus adalah ketika Yesus menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian juga bertemu dengan semua rasul 15:7.  Jika saksi-saksi sebanyak itu masih juga tidak cukup, maka paulus menegaskan, bahwa dirinya sendiri pun ditemui oleh Yesus (15:8) melalui penampakan yang disaksikan oleh banyak orang.   Artinya, apa yang Paulus wartakan bukalah bualan yang tidak ada juntrungannya.  Injil yang Paulus wartakan, Yesus Kristus Tuhan dan juru selamat dunia itu adalah tokoh sejarah yang benar ada dan benar bangkit dari maut, dan bukan dicuri.  Bahkan dirinya sendiri, Paulus sendiri pun pernah mengalami secara langsung.  Pertemuan itu kemudian menjadi titik balik kehidupan Paulus.

Di masa kini ada begitu banyak upaya-upaya, entah sengaja atau tidak, untuk “mengebiri” kebenaran Yesus telah bangkit.  Penemuan makam keluarga yang diklaim adalah makam Yesus dan keluarganya beberapa waktu lalu juga merayu orang masa kini untuk percaya bahwa Yesus sesungguhnya tidak pernah bangkit.  Jika benar Yesus tidak pernah bangkit, maka sesungguhnya kepercayaan semua orang sia-sia belaka. Sebab kebangkitan Yesus adalah salah satu tanda kebesaran Dia, mengalahkan Maut. Sesungguh,perkataan Yesus akan memberikan umat manusia yang percaya kepadaNya kehidupan kekal akan sia-sia, jika Dia sendiri tidak terlebih dahulu mengalahkan maut oleh kebangkitan-Nya.Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top