Menilik Kegunaan Bahasa Roh (1 Korintus 14:6-13)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:20 | View : 440
bahasa-roh.jpg

Bahasa Roh memang menjadi salah satu perhatian utama Paulus kepada jemaat Korintus.  Sebab karunia rohani satu ini acap diselewengkan.  Tidak sedikit orang Korintus yang kemudian jumawa, berbangga diri memiliki karunia tersebut.  Bahkan bukan mustahil sebagian orang memalsukan perwujudan adikodrati Roh Kudus itu dengan sekadar mengucap kata-kata dan istilah yang tak jelas artinya, demi satu gengsi yang sama.  Bukan Paulus alergi dengan karunia berkata-kata dalam suatu bahasa  (Yun. glossa) teretentu yang belum pernah dipelajari dalam suatu komunitas(Kis 2:4; 1Kor 14:14-15). Boleh jadi berupa salah satu bahasa manusia (Kis 2:6) atau bahasa yang tidak dikenal di dunia ini (1Kor 13:1).  Tidak, sama sekali Paulus tidak anti terhadap bahasa roh.  Bahkan ia menganggap  karunia bahasa roh sebagai bagian penting dari kehidupan rohaninya, bahkan jauh lebih sering digunakan daripada orang biasa. “14:18 Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh  lebih dari pada kamu semua.”   Tetapi tentang karunia bahasa roh Paulus mewanti-wanti benar agar jangan justru menjadi batu sandungan bagi orang. 

Dari pasal 13 dan 14 ini, sedikitnya ada 3 alasan yang Paulus ajukan--dan sudah ditulis pada artikel sebelumnya --untuk menunjukkan, bahwa bisa berbahasa roh bukanlah sesuatu yang terlampau besar dan penting.  1.  Bahasa roh tidak lebih utama dari kasih; sebab di dalam kasih ada instrumen filter yang menolong orang, si pemilik karunia untuk mawas diri, berhati-hati dalam menggunakan karunia (berbahas roh). Jika tidak, maka bukan mustahil karunia, termasuk bahasa roh yang diselewengkan justru menjadi pemicu perpecahan, seperti yang terjadi di jemaat Korintus;  2. Bahasa roh itu sifatnya sementara, berguna ketika orang ada di dunia, sementara kasih memiliki aspek kekekalan; 3.  Nubuat, atau pengajaran firman Tuhan jauh lebih Berharga dari Bahasa Roh.  Jika bahasa roh bersifat membangun diri, nubuat jauh berharga, sebab membangun orang lain.  Nah, sekarang Paulus menyuguhkan satu lagi aspek penting yang perlu “diperhatikan” dari karunia bahasa roh. 

Bahasa Roh kembali dilihat Paulus dari aspek fungsionalitas, atau kegunaannya.  Sebagai pengantar, kepada pembaca suratnya (orang Korintus), Paulus memberikan pernyataan penting, bahwa kehadiran dirinya di tengah-tengah orang Korintus sesungguhnya tidak berarti apa-apa jika hanya berkata-kata dalam bahasa roh.  Seperti kita tahu, bahasa roh merupakan konsumsi pribadi dan hanya bertujuan membangun diri sendiri.  Dalam sebuah komunitas (jemaat Korintus), kehadiran Paulus menjadi berarti ketika dia menyampaikan penyataan  Allah, pengetahuan, nubuat atau pengajaran, (14:6).  Secara tidak langsung Paulus menunjukkan teladan baik tentang presensi (kehadiran) di tengah-tengah umat seyogyanya seperti apa.  Seyogyanya tidak egois mementingkan diri, mementingkan pertumbuhan diri, tapi pertumbuhan iman bersama. 

Sebab, jika orang hanya senang berbahasa roh, senang membangun diri sendiri, bukankah sebenarnya tidak berarti apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa selain kenikmatan pribadi. Paulus kembali menggunakan tamsil (perumpamaan) berbahasa roh dengan bunyi alat musik.  Sama seperti bunyi seruling dan kecapi yang dibunyikan bersama-sama, bagaimana mungkin orang dapat mengetahui lagu apa yang sedang dimainkan jika keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (14:7).  Atau bagaimana orang  dapat menyiapkan diri untuk segera berperang jika nafiri yang dibunyikan tidak terang, tidak jelas.  (14:8). 

Dari dua perumpamaan ini dapat dilihat, betapa penting orang tahu fungsi dan kegunaan dari sesuatu.  Betapa penting sesuatu itu berfungsi dengan tepat dan jelas.  Dalam hal ini tentu saja yang dimaksudkan Paulus adalah fungsi/kegunaan penting dari bahasa roh.  Ayat selanjutnya menegaskan hal ini.  Jika orang tidak mempergunakan kata-kata yang jelas (dalam konteks berbahasa roh), maka orang tidak mungkin dapat mengerti apa sedang dikatakan.  Dengan demikian kata-kata yang terucap itu sia-sia saja, menguap di udara (14:9).

Bahasa roh menjadi tidak berarti apa-apa, tidak ada gunanya ketika tidak dibarengi dengan arti.  Ada banyak bahasa di dunia, dan semua itu memiliki arti.  Sama seperti bahasa berbeda, bahasa bangsa atau suku lain yang asing di telinga, demikian juga bahsa roh ketika dikumandangkan dalam komunitas jemaat akan menjadi hal yang asing, aneh dan tidak bermakna.  Untuk itu, kembali Paulus mengajak jemaat Korintus agar berusaha keras memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi yang terpenting adalah kegunaannya bagi pembangunan spiritual jemaat, dan bukan menjadi sesuatu yang aneh atau asing.(14:12).  Paulus sekali lagi mengajak  orang Korintus agar siapa pun yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia juga wajib berdoa, agar kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsir bahasa tersebut. Slawi

 

See also

jQuery Slider

Comments

Top