PILKADA, UMAT DAN KESEJAHTERAAN KOTA

Author : Pdt. Bigman Sirait | Fri, 6 July 2012 - 13:19 | View : 1429

Pdt. Bigman Sirait

SANGAT menarik apa yang dikatakan oleh nabi Yeremia tentang kehadiran orang percaya, di kota di mana dia ada. “Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7).”
Mengusahakan kesejahteraan kota, bahkan dalam status orang buangan, sangat heroik dan penuh tanggungjawab. Inilah gambaran benar tentang seorang Kristen. Bukan orang yang berkeluh kesah, bermental minoritas, menghindar, bahkan bersembunyi, dengan argumentasi yang tak jelas. Atau, sekadar sibuk beretorika dengan balutan doa, namun tanpa tindakan nyata. Berdoa seharusnya diikuti dengan tindakan sebagai buah iman. Tindakan yang tampak jelas, terukur dan teruji. Bukan sekadar berkumpul banyak, dan mengklaim karya karena telah berdoa, tapi hadir sebagai orang percaya di tiap kota, di mana dia ada. Berdoa sudah seharusnya, bahkan di setiap waktu kehidupan, oleh setiap pribadi. Doa bukan acara, tapi hubungan pribadi dengan DIA, Tuhan Sang Pemelihara, agar menolong kita menjadi berkat nyata. Terlebih lagi umat di ibukota negara Indonesia, kota Jakarta.
Jakarta akan memilih pemimpin kotanya. Umat dituntut terlibat penuh untuk memilih dengan bijak, dan tidak terjebak pada slogan yang kurang bertanggungjawab. Janji pepesan kosong yang seringkali sulit dinalar. Umat harus berperan, karena umat memang bertanggungjawab atas kesejahteraan kota. Karena itu, setiap umat dituntut untuk bergelut dengan realita politik yang ada. Kali ini panggung politik mengalami pencerahan yang cukup menjanjikan. Lepas dari siapa yang bakal menang dan menjadi pemimpin, Pilkada Jakarta kali ini menghadirkan banyak calon. Empat pasang calon diusung oleh partai politik, dan ada dua pasangan calon independen. Sebuah terobosan yang memberi kesempatan kepada siapapun yang memiliki kompetensi kepemimpinan untuk bisa maju. Ini yang pertama kali Jakarta menampilkan calon dari jalur indipenden. Dan calon yang maju juga cukup bermutu. Khususnya Faisal Batubara (Faisal Basri) yang tak asing lagi sepak terjangnya di ranah politik, sekaligus seorang pengamat ekonomi yang mumpuni.
Banyak calon, tapi bagaimana memilih dengan benar, ini menjadi persoalan tersendiri. Di sini umat harus jeli, cerdik, dan tepat memilih, tak tergoda iming-iming yang selalu menebar janji-janji “surga”. Untuk itu REFORMATA telah memuat gambaran lengkap para calon Gubernur dan wakilnya. Ini juga yang pertama kali, ketika ada calon diposisi wakil gubernur, adalah seorang umat Kristen. Yang menarik bukanlah kristennya, melainkan kualitasnya. Jika memilih hanya karena se-agama, itu sektarian, pilihan yang sempit, dan bukan warga yang bijak. Seorang pemimpin bukan soal apa agamanya, melainkan kualitas kemampuannya dalam memimpin. Ahok, calon wakil gubernur DKI, sebelumnya pernah menjadi seorang Bupati, dan terakhir anggota DPR RI. Jejak prestasinya cukup meyakinkan sebagai bupati Belitung Timur. Menjadi semakin lengkap ketika Ahok mendampingi Joko Widodo, walikota Solo yang fenomenal, yang pernah memenuhi pemberitaan media berkat SMK Solo, yang meluncurkan mobil buatan anak negeri. Menjadikan mobil Esemka sebagai mobil dinas, membuat dia juga dicerca kritik orang yang tak suka kepadanya. Wali kota Solo dua periode ini sangat berpihak pada rakyatnya, bukan kepada sekelompok orang yang bisa memberikan keuntungan materi. Itulah sosok JokoWi, panggilan tenarnya.
Memenangkan pilihan rakyat untuk kedua kalinya dengan angka mutlak, baru Jokowi yang mengukirnya. Sementara Fauji Bowo, Gubernur yang juga pernah menjabat wakil gubernur, mengingatkan suksesnya banjir kanal, dan dimulainya proyek MRT. Semua hadir dengan rekam jejaknya. Membangun Jakarta memang tak mudah, karena memang sangat kompleks sebagai Ibu kota Negara. Ada banyak kepentingan politik di sini, dari partai hingga pemerintah, dari buruh hingga Presiden.  Juga kepentingan ekonomi yang sangat tinggi, dari rayat jelata hingga pengusaha kaya raya. Baik bagi yang ingin mendulang untung, maupun rakyat yang “buntung”, yang berjuang untuk bertahan hidup. Belum lagi kemacetannya yang sangat terkenal dan terus semakin mengental. Dan banjirnya yang sangat “bersahabat”, karena selalu datang rutin di kala hujan. Membuat kita orang Jakarta sering disapa dengan pertanyaan; macet ya? banjir ya? Dan sekarang, tambah menggila, bukan sekedar naiknya jumlah kendaraan, tapi hilangnya peraturan di jalanan. Rambu lalulintas seakan tak ada guna, karena melawan arus sudah jadi tontonan biasa. Bus way (Trans Jakarta), harapan atas angkutan modern, agak jauh dari yang diimpikan. Kenyamanan, ketepatan, kecepatan, tetap masih dalam bayangan. Akankah pemimpin baru bisa memperbaikinya? Untuk itu diperlukan pemimpin yang tak hanya ahli membuat rencana, karena untuk itu bukan soal susah. Konsultan pembangunan kota bisa diminta pendapatnya, atau rencana pembangunan kota yang terpola. Itu hal biasa.
Semua kesulitan, macet, banjir, angkutan, peraturan,ada dalam tataran hitungan, yang bisa diselesaikan diatas kertas. Yang menjadi persoalan adalah masalah klasik, apakah ada pemimpin yang berintegritas, yang konsisten dalam menjalankan tugas, menghormati dan menjalankan rencana yang sebenarnya. Pengabdi negeri bukan yang menggagahi. Tak hanya bicara tapi bertindak nyata. Bukan rahasia lagi, di Jakarta banyak bangunan yang melanggar aturan, yang jelas menjadi penyumbang kemacetan. Aturan tak jalan, karena koneksi tak sehat yang cenderung merusak. Pembangunan seharusnya bersahabat dan untuk kepentingan semua orang. Pembangunan gedung yang dipaksakan, dengan mengabaikan daya tampung jalan semakin hari semakin panjang.  Ditambah jumlah mobil yang meningkat tinggi, maka tak heran jika Jakarta menjadi kota macet. Belum lagi bangunan tua yang asri dan masuk cagar budaya, bisa dirubuhkan, bahkan dihilangkan, tanpa ada yang ditindak. Pembangunan berjalan seringkali bukan berdasarkan rencana kebutuhan kota, namun kepentingan sesaat, atau bernuansa kampanye. Jangan berharap di situasi seperti ini rencana pembangunan (tata kota, tata ruang) akan berjalan konsisten, karena sangat situsional.
Kembali ke soal kepemimpinan, Jakarta sangat membutuhkan pemimpin yang sejalan antara kata dan tindakannya. Karena itu, menghitung  cermat rekam jejak tiap calon sangatlah penting. Siapa dia dulu, tak bisa diabaikan. Bicara kampanye pasti semua bicara indah, rencana hebat, bahkan cenderung tidak realistis. Kita perlu pemimpin yang objektif, yang memberikan harapan yang mungkin, bukan utopia. Karena itu, mencermati lewat berbagai media elektronik mapun cetak, jangan sampai terlewatkan. Rekam jejak integritas Jokowi, Faisal, cukup familiar. Dan dalam konteks birokrat, Jokowi telah membukukan kesuksesannya di Solo. Sementara soal kota, umat tak dapat berpangku tangan, sekadar berdoa dan memohon agar kota diberkati Tuhan. Keterlibatan sebagai wujud tanggungjawab warga perlu didemostrasikan. Umat harus mengabdikan dirinya sebagi wujud iman percayanya. Bukankah kita merindukan kesejahteraan kota? Dan kerinduan itu harus juga sekaligus persembahan kita untuk kota Jakarta. Umat harus mengusahakan kesejahteraan kota, tapi bukan untuk kelompoknya.
Kesejahteraan kota bukan soal agama, melainkan pengabdian diri orang percaya agar menjadi saksi di manapun dia berada. Jokowi, Faisal, bukan seorang Kristiani, tapi mereka orang yang layak menerima amanah. Soal siapa yang akan jadi pemimpin Jakarta, adalah pilihan rakyat. Karena semua umat sudah seharusnya ikut menyelenggarkan pesta demokrasi tingkat kota, di Jakarta. Investasikan waktu dan pilihan anda untuk masa depan Jakarta. Untuk kesejahteraan kota Jakarta. Jangan lagi berpangku tangan, dan hanya sekadar memilih dari apa kata orang, termasuk tulisan ini. Umat harus belajar dewasa dan mandiri membuat keputusan dalam memilih, tapi perlu jeli dan menjadikan pilihannya pilihan bermutu. Akhirnya, selamat memilih pemimpin Jakarta yang tak berbau korupsi, tak berpihak, tak bisa dipercaya, karena hanya banyak bicara miskin karya. Selamat Pilkada kotaku, sejahtera Jakarta untuk semua rakyatnya.       

Comments

Top