Lebih Utama Dari Karunia (1 Korintus 13:1-3)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:11 | View : 483
lebih-utama.jpg

Apa itu karunia sudah panjang-lebar dijelaskan.  Kepelbagaian jenis karunia pun sudah dipaparkan. Selanjutnya Paulus mempersilakan jemaat Korintus untuk mencari, mana diantaranya yang paling utama (12:31).  Apakah itu karunia untuk berkata-kata dengan hikmat; berkata-kata dengan pengetahuan; karunia iman untuk menguatkan orang ketika menghadapi cobaan, ataukah karunia untuk menyembuhkan.  Apakah kuasa  untuk mengadakan mujizat, karunia untuk bernubuat, atau karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.  Karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi yang jelas bahwa karunia-karunia itu dikerjakan oleh satu Roh, bagi pelayanan kepada Allah dalam suatu komunitas umat.  Jika sudah menemukannya, Rasul Paulus akan menunjukkan sesuatu yang lebih utama lagi dari karunia paling utama yang dipilih mereka.(12:31).

Boleh saja orang di Korintus memperoleh karunia spektakuler. Karunia untuk tidak hanya mengerti satu-dua bahasa, bahkan dapat mengerti dan berkata-kata dalam semua bahasa  manusia pun bahasa malaikat, sesungguhnya hal itu tidak ada apa-apanya jika kasih tidak menjadi latar (13:1).  Jika kasih tidak melekat di sana,  maka semua itu hanyalah kosong belaka. Spektakuler fenomenanya di luar, namun esensinya nihil belaka. Paulus mengibaratkannya dengan gong yang berkumandang, atau canang yang gemerincing.  Berbahan perungguh dengan bentuk yang terlihat besar, dengan ke khasan suara yang keras, namun jika ditilik ke dalam faktanya hanya sebatas bentuk, kulit dan fenomenanya saja yang mengemuka, isinya tidak padat, ada ruang kosong besar di sana, itulah Gong.

Ada lagi karunia hebat lain yang Paulus tunjukkan.  Karunia yang sudah pasti dirindui orang untuk dapat memilikinya.  Yaitu karunia untuk bernubuat, karunia mengetahui segala macam rahasia di muka bumi dan memiliki seluruh pengetahuan.  Atau memiliki iman yang tidak saja besar, tapi juga sempurna, sehingga dapat memindahkan gunung (13:2).  Namun bagi Paulus itu tidak berarti apa-apa, jika orang yang memiliki karunia sebesar itu tidak mempunya kasih.  Lebih keras lagi Paulus berkata, bahwa karunia sebesar itu sesungguhnya tidak ada gunanya sama sekali tanpa ada kasih yang berjalan beriringan. Tanpa ada kasih di dalamnya bukan tidak mungkin yang mencuat keluar tak lebih dari demo karunia.  Muaranya pada kepongahan diri dan jumawa.  Berkata besar menunjuk diri sebagai “orang pilihan” yang dapat berbuat sesuatu yang besar.  Walhasil, gap antara pemilik Karunia dan orang biasa menjadi semakin lebar.  Jadilah pemicu masalah bertambah besar pula.

Mungkin  saja karunia paling utama lain yang dipilih orang terkait soal memberi dan berkorban.   Tentang hal ini Paulus dalam suratnya berkata: sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (13:3).   Sebesar apapun pengorbanan orang, bahkan sampai menyerahkan nyawanya sendiri, sesungguhnya tidak ada faedahnya.  Baik ketiadaan manfaat bagi diri, apalagi orang. 

Dari ketiga ayat ini sudah sangatr gamblang, betapa sesungguhnya Karunia sebesar apapupun, atau se-spektakuler apapaun. Ketika tidak ada kasih yang menjadi latar.  Tatkala tidak ada kasih yang mengiringi atau berjalan bersama di sana, sesungguhnya karunia itu tidak ada gunanya sama sekali.  Kasih tidak hanya terkait soal diri, seperti fenomena yang mengemuka dari karunia yang diselewengkan oknum jemaat atau hamba Tuhan, baik di Korintus maupun di kekinian.  Kasih itu soal mengindahkan hal di luar diri.  Soal memperhatikan pribadi atau person, kejadian atau peristiwa di luar diri. Inilah "hal yang lebih utama lagi" yang ingin Paulus tunjukkan kepada jemaat Korintus.  Tujuan Paulus jelas, hendaknya kasih itu memberi warna dan prinsip pada karunia yang dimiliki umat.  Kiranya kasih juga dapat menjadi pengendali semua manifestasi rohani atau ekspresi karunia. Sehingga berkenan di mata Allah dan umat mendapat manfaat dan berkat karenanya.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top