Tatanan Ilahi Laki-Laki Dan Perempuan (1 Korintus 11:2-3).

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 14:29 | View : 445
can-men-and-women-be-friends.jpg

Laki-laki dan perempuan merupakan dua insan berbeda, namun diandaikan memiliki kedudukan yang sama.  Meskipun faktanya tidak selalu demikian.  Apalagi jika bertolak dari teks yang memiliki keterkaitan erat dengan kebuadayaan/adat Yahudi.  Begitu juga latar dari teks kali ini (1 Korintus 11:2-3).   Bukan sesuatu yang mudah untuk menelaahnya.  Boleh jadi justru kesalahpahaman yang didapat.  Apalagi jika menggunakan frame atau cara padang kekiniaan.  Hampir dapat dipastikan muaranya akan mengarah pada penegatifan teks.  Yang lazim didengar misalnya:”Alkitab tidak pro perempuan”; “Alkitab mendiskreditkan perempuan” dan masih banyak lagi. 

Memang tidak dapat dinafikan jika adat Yahudi begitu merendahkan perempuan.  Menempatkan perempuan pada struktur kedua.  Jika tidak penting benar, maka tidak akan disebut namanya.  Alkitab, dalam hal ini Paulus memakai sarana/cara pandang atau adat itu untuk menunjukkan betapa berharganya perempuan.  Sesungguhnya sama berkualitasnya, setara dengan laki-laki. 

Benar, dalam bagian suratnya kali ini Paulus menunjukkan posisi penting atau kedudukan penting dari Laki-laki.  Menempatkan laki-laki sebagai kepala dari perempuan, kemungkinan besar merefrensi pada Kej 3:16.  Namun hal ini tidak serta merta dapat/boleh ditafsirkan sebagai bentuk diskriminasi atau struktur yang merendahkan perempuan.  Justru Paulus secara tersurat menyarankan kepada umat di Korintus agar membuat pembedaan diri dengan dunia.  Perbedaan dari pandangan dunia (Korintus) masa itu, bahwa perempuan dipandang tidak lebih dari sekadar objek.  Baik objek nafsu maupun objek “spiritual”.  Ini kentara betul dari istilah-sitilah “perawan Korintus” yang berkonotasi negatif.  Juga maraknya pelacur bakti di kuil penyembahan dewi kesuburan. Sebuah ritual penyembahan yang dilakukan dengan mengumbar tubuh perempuan.  Perbedaan itu dimulai dari rujukan teologis Paulus, bahwa: “Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki  dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” 

Apa yang dikemukakan Paulus ini untuk memberikan landasan yang tepat tentang keterkaitan hubungan antar perempuan dan laki-laki.  Kata "kepala" tidak saja mengungkapkan kekuasaan, tapi juga tatanan ilahi. Bukan didasarkan atas pertimbangan ketertarikan pada budaya tertentu atau kesukaan pribadi, tetapi berdasarkan apa  yang telah ditetapkan oleh Allah. Yakni agar perempuan menjadi penolong dari laki-laki.  Apalagi di ayat-ayat selanjutnya Paulus begitu jelas menyebutkan, bahwa Laki-laki tidak mungkin ada tanpa perempuan.  “Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. (11:11-12)

Di sini wanita ditempatkan dalam posisi yang tepat bersanding dengan laki-laki.  Tidak mungkin diciptakan perempuan tanpa adanya laki-laki, begitu juga urgensi peran perempuan dalam melahirkan laki-laki.  Karena itu hubungan laki-laki dan perempuan, suami dan istri mengandaikan sebuah kondisi di  mana suami harus bertanggung jawab untuk melindungi dan membimbing istrinya, begitu juga sebaliknya, istri menjadi penolong bagi suami, dan bukan perongrong atau penodong. 

Tentang ketundukan pada struktur atau lebih tepatnya “tatanan ilahi”, Kristus telah memberi teladan yang begitu jelas.  Meskipun Kristus tidak lebih rendah dari Bapa (kepala), namun Dia rela taat kepada Bapa, menjadi hamba yang hina demi tugas yang mulia.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top