Bukan Berhalanya, Tapi Tindakannya (1 Korintus 10:14-22)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:46 | View : 501
20151002163751-forward-thinker.jpeg

Merasa memiliki kerohanian yang “matang” acap membuat orang lekas jumawa.  Sehingga tak jarang membuat mereka lupa bahwa dalam “kematangan” rohani itu mereka haruslah tetap belajar, tetap bergumulu di setiap saat dan waktu.  Tak jarang orang yang merasa sudah “diselamatkan”, lantas merasa bisa berbuat semaunya, karena toh Allah sudah menyelamatkan dia.  Apalagi “materai” (tandanya) sudah amat jelas.  Sudah di baptis dan dapat mengikuti perjamuan suci bersama hamba Tuhan, tetua dan jemaat lainnya.  Ayat sebelumnya, 1 Korintus 10:8-14 menegaskan kepada kita, bahwa tanda tidak serta merta menunjukkan orang benar diselamatkan.  Menjadi kristen, dibaptis, dan mengikuti sakramen perjamuan itu hanya penanda awal.  Orang yang diselamatkan pastilah akan menunjukkan buah-buah iman yang sejati dari dalam diri.  Parameter ini pun tidak seharusnya ditujukkan untuk orang sebagai alat penghakiman, tapi sebagai cambuk bagi diri untuk menuju pada Sang Suci. 

Sama halnya dengan jemaat di Korintus.  Sebagian orang di Korintus tampaknya memang senang makan seperjamuan dengan para penyembah berhala dikuil-kuil dan pertemuan ibadah lainnya.  Parahnya lagi, makanan yang mereka makan pun adalah makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala.  Mereka menganggap hal itu tidaklah menjadi persoalan. Karena toh, selain sudah merasa diri menjadi kristen, mereka juga telah “diperteguh” dengan segala “tanda” dan “materainya”.  Tentang sikap mereka ini Paulus dengan tegas berkata:” jauhilah penyembahan berhala!” (10:14).     Perintah ini hampir dapat dipastikan tidak mungkin diamini oleh mereka yang tengah bermegah atas kebebasan, yang bangga diri lantaran merasa tidak lagi terbelenggu dengan aturan-aturan yang rumit.  Mereka yang merasa “imun” dan tak mungkin ternoda dengan hal-hal disekitar yang kental dengan penyembahan berhala.   Padahal tindakan mereka, menurut Paulus bisa jadi masuk dalam kategori “perselingkuhan” rohani. 

Perselingkuhan rohani seperti itu bukanlah persoalan main-main.  Sebab, ketika orang Ikut hadir di dalam suatu perjamuan agama, baik itu Kristen (16, 17), Yahudi (18) atau bangsa kafir (19-21), berarti mereka tengah bersekutu dengan apa yang disembah.  Karena itu, mengapa Paulus mewanti-wanti benar agar orang di Korinstus tidak makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala di dalam perayaan-perayaan orang kafir.  Persoalannya ansich bukan pada berhala sendiri yang sesungguhnya adalah barang mati yang tidak dapat berbuat apa-apa.  Paulus pun sebenarnya sudah menyinggung hal ini "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa. (1Kor8:4).  Sebuah berhala, yang sejatinya hanya seonggok batu itu tidak mungkin benar-benar melukiskan Allah atau ilah-ilah tertentu. Bagaimana mungkin kayu atau batu dapat menggambarkan sifat Allah yang tidak dapat rusak? Karena itulah, persoalan persembahan kepada berhala, yang sebagian orang Korintus ikut turut semeja dan menyantapnya, sesungguhnya berkait erat dengan soal “persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah”, kata Paulus (10:20). Artinya, cara atau tindakan (persembahan kepada berhala) yang dimanfaatkan oleh si jahat untuk menyeret orang menjauh dari Allah yang sejati itulah yang bermasalah, bukan berhala.  

Untuk itulah Paulus tidak menyarankan, tetapi memberi “perintah” agar menjauhi duduk semeja, memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala.  Sebab hal itu dapat membuat Allah yang pencemburu itu bangkit amarahnya dan murka. “Adakah jemaat di Korintus ingin membangkitkan cemburu Tuhan sebagaimana dilakukan oleh para pendahulu mereka? Dapatkah mereka menghadapi murka-Nya tanpa mendapatkan hukuman? (10:22).  Kisah bangsa pendahulu mereka membuktikan, bahwa Allah Israel tidak segan-segan membinasakan orang yang mendua hati, berpaling kepada Allah lain.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top