Tidak Menjadi Bunglon (1 Korintus 9:19-23)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:36 | View : 767
tidak-menjadi-bunglon.jpg

Kebebasan sejati bukanlah bebas sebebas-bebasnya. Bukan kebebasan yang tak ada batasnya.  Kebebasan sejati adalah kebebasan memilih untuk bertindak, meskipun itu bertentangan dengan hasrat diri.  Bertentangan dengan keinginan hati dan nafsu.  Hal itu disadari benar oleh Paulus.  Meskipun orang menganggap pilihan untuk menjadikan dirinya mirip seorang hamba (9:19) adalah bentuk pengekangan, bentuk keterikatan dan ketidakbebasan.  Namun Paulus justru melihat itu sebagai pilihan yang bebas.  Pilihan yang mandiri. Yang keluar dari hasrat terdalam, namun mampu melawan nafsu yang cengkraman dan ekspresinya mengemuka dengan hebatnya.  Sebuah pilihan yang didasarkan pada alasan yang tepat benar.  “Supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang”, itulah yang melandasi sikapnya.

Meskipun Paulus memiliki hak kerasulan, hak untuk mendapat penghidupan, hak untuk membawa istri serta, seperti disebut dalam ayat-ayat sebelumnya.  Namun hak itu tak dipertahankannya sebagai sesuatu yang terlalu berarti. Sebab ada makna yang lebih besar, yang lebih penting untuk dijadikan pertimbangan dan dipertahankan.  Baginya, di tengah-tengah orang yang memiliki karakteristik khusus seperti orang-orang Yahudi, lebih baik jika dia memilih untuk menjadi seperti mereka.  “menjadi seperti” bukanlah mem-fotocopy.   “Seperti”, itu sama dengan mirip, tapi tetap saja berbeda.  Lebih jelas lagi disampaikan Paulus pada kalimat selanjutnya, kepada mereka yang hidup di bawah hukum taurat dengan segala macam hukum dan perintahnya, Paulus pun memilih untuk hidup menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat. Namun ini bukanlah bentuk siratan pengakuan Paulus bahwa dirinya kembali terbelenggu oleh hukum tersebut, sebab dengan tegas dia berkata bahwa dirinya tidak hidup di bawahnya (9:20). Menjadi seperti Yahudi mengandaikan sikap menghormati terhadap tradisi dan budaya mereka.  Anjuran Paulus kepada Timotius agar disunat terlebih dahulu, sebelum ikut dalam pelayanan, mungkin dapat menjadi contoh untuk menjelaskan hal ini (Kisah Para Rasul 16).  Lebih lanjut, kembali Paulus menegaskan hal apa yang melatari sikapnya itu, yakni: supaya memenangkan orang Yahudi dan memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat (9:20).

Sikap yang sama juga ditunjukkan Paulus kepada mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.  tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. “Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat..”(9:21).  Namun prinsip yang tegas sekaligus identitas yang jelas tetap ditunjukkannya.  Ketaatannya  terhadap hukum Allah, kerelaannya untuk hidup di bawah hukum Kristus, tetap menjadi pembatasnya.  Begitu juga kepada “orang-orang yang lemah”; kepada “semua orang”, prinsip yang sama “menjadi seperti” dipraktikkannya. 

Dan yang terlebih penting, hal yang melandasi sikap Paulus itu disebutkannya 6 kali pada bagian ini.  Diakhiri dengan klimaks pernyataan: “Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya”. Hal ini memberi gambaran yang tegas betapa pentingnya hal yang disampaikannya itu.    Betapa kuatnya prinsip yang dipegangnya. 

Sikap seperti itu tentu saja berlainan dengan pilihan banyak orang yang sepertinya mengutamakan teks suci, namun kekakuan yang justru ditunjukkan.  Tak segan-segan Kekerasan dipertontotonkan sebagai  ekspresi pembelaannya terhadap teks, sembari menunjukkan laku memaki budaya yang dianggap dosa.  Namun demikian pilihan Paulus bukanlah pilihan untuk menjadi bunglon, yang demi efektifitas mengkomunikasikan Injil lantas rela berkompromi. Sikapnya itu ditunjukkan sebagai ekspresi diri untuk mengusai diri.  Melepaskan haknya sembari menghargai keyakinan orang lain, bagi kemajuan pemberitaan Injil.  Menyesuaikan diri dengan keyakinan orang-orang yang dilayani, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip dasar Kristen.  Metode penyampaian boleh saja dinamis, tapi tidak untuk isi ajaran.  Paulus juga Belajar menjadi hamba bagi Kristus, sekaligus mempersempit celah bagi keunggulan diri. Berjuang menguasai diri demi pewartaan Injil.  Toh “menjadi seperti” tak akan menggiringnya ke arus dalam “menjadi sepenuhnya”, mengingat prinsip yang dipegangnya, kerelaan untuk membatasi diri dalam hukum kristus dan ketaatannya terhadapnya, niscaya dapat membatasi dan mengarahkan kepada fokus yang jelas.   Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top