Menjawab Tuntutan Dan Kritikan (1 Korintus 9:1-18)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:34 | View : 410
menjawab-tuntutan-dan-kritikan.jpg

Giat dan semangat melayani saja tidak cukup.  Ketahanan diri sepertinya lebih diperlukan seorang hamba Tuhan.  Pasalnya kuatnya rongrongan dari orang-orang tak bertanggungjawab, belum lagi tuntutan yang tidak relevan kerap menyasar orang-orang yang mengususkan diri dan hidup untuk melayani Tuhan. Jangankan mereka yang menjadi hamba di kekinian.  Jauh sebelumnya, Paulus, tidak saja sebagai hamba Tuhan, bahkan juga rasul, itupun tak luput dari dua hal yang menyesakkan tadi.  Sudah tak dihargai pelayanannya, kredibilitas diri dan kerasulan Paulus pun diragukan. 

Menjawab hal ini, dengan gaya bahasanya yang tegas dan lugas Paulus berbicara dalam suratnya: ”Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” beberapa pertanya retorik yang sebenarnya tidak perlu di jawab pun orang dikorintus sudah tahu jawabannya adalah “IYA”, “IYA”dan “IYA”.  Karena itu untuk apa diragukan lagi? 

Paulus sadar, memang ada saja orang yang tidak menganggap Paulus Rasul.  Mungkin salah satu alasannya dia tidak pernah dimuridkan langsung oleh Yesus di masa hidupnya.  Paulus tidak bisa mencegah orang menilai demikian, tetapi dia juga merasa perlu untuk meluruskan hal itu.  Sebab sesungguhnya kehidupan umat di Korintus yang berada dalam Tuhan, sesungguhnya adalah materai kerasulannya.  Dan tentu saja hal ini tidak mungkin disangkal, karena memang ada dan nyata.  Hal itu adalah jaminan yang buahnya dapat dicicip.  Menunjukkan kepada orang bahwa usaha Paulus menabur benih dan menjaga benih itu hingga bertumbuh dewasa tidaklah sia-sisa.  Allah sungguh-sungguh "memberikan pertumbuhan" itu. 

Terhadap mereka yang mengkritik, lebih tepatnya menghakimi (yun:anakrino) Paulus menunjukkan pembelaannya: pertama soal hak untuk makan dan minum. Sebagian penafsir menunjukkan adanya indikasi bahwa hak untuk mendapatkan tunjangan dalam kebutuhan yang mendasar, itu pun ada kesan absen dipenuhi oleh umat di Korintus. Padahal, baik Perjanjian Lama (PL) pun Perjanjian Baru (PB) memberikan arahan yang jelas. Bahwa mereka yang terlibat dalam pemberitaan Firman Allah harus ditunjang oleh mereka yang menerima berkat rohani daripadanya (Ul 25:4; bd. Im 6:16,26; 7:6; Mat 10:10; Luk 10:7). Tentu saja akan menjadi berbeda jika Paulus sendiri yang menolak. 

Selanjutnya adalah hak untuk membawa serta Istri yang dikasihi. Disini Paulus terpaksa membandingkan dirinya dengan para rasul lain yang juga membawa keluarga mereka, anak dan istri mereka dalam perjalanan melayani.  Ada satu nama rasul yang disebut, yakni Kefas yang membawa serta keluarganya dalam menginjil(9:5). 

Hak berikutnya adalah hak untuk tidak bekerja, tidak untuk menghidupi diri sendiri dengan pekerjaan tangannya.  Lagi-lagi dengan gaya retorik Paulus bertanya, atau hanya dia dan Barnabas semata yang tidak mempunyai hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan (9:6).  Selanjutnya untuk memberi penegasan atas jalan/langkah yang dipilihnya Paulus memberikan beberapa ilustrasi tentang tidak adanya orang yang turut dalam peperangan menggunakan biayanya sendiri.   Lalu tidak didapati orang yang menanami kebun anggur, namun tidak memakan buahnya.  Gambaran tentang kemuskilan orang yang menggembalakan kawanan domba tetapi tidak minum susu domba itu.  Bisa jadi pilihan Paulus memang salah besar.  Karena memang tidak populer, dan memang sedikit orang yang kemudian mengikuti jejaknya. 

Jika sebelumnya Paulus berbicara dengan samar-samar, sekarang apa yang dia maksudkan dibuat lebih terang benderang.  Bahwa apa yang dia maksudkan adalah: tidaklah berlebihan apa yang diharapkan Paulus dari umat dikorintus untuk menuai hasil duniawai (jasmani) dari benih rohani yang telah Paulus tabur kepada umat di Korintus (9:11).  Jika orang memiliki hak untuk itu, tentu Paulus, sebagai penabur benih harusnya mendapatkan hak yang jauh lebih besar.  Namun apa sikap Paulus:  “Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.” Tak satupun hak-hak tersebut di atas dipergunakan oleh Paulus, ayat nya ke 15 memberikan keterangan yang jelas. 

Sebab bukan hal remeh temeh seperti kesejahteraan diri dan makan minum, tapi ada sesuatu yang lain yang menjadi pertimbangan Paulus.  Agar dirinya  tidak menjadi penghambat pemberitaan Injil. Atau, dengan hanya mengharapkan keuangan dari umat, maka pemberitaannya menjadi tidak efektif dan efisien, dan akan membuang waktu percuma dengan menunggu.  Bagi Paulus pemberitaan Injil adalah hal pertama dan utama.  Apalagi dia melakukan itu bukan menurut kehendak pribadi, tetapi tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan Allah kepadanya.  Dan yang terlebih penting lagi, bukan hak-hak atau upah yang diharapkan.  Sebab bagi Paulus, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.”  Itulah upah. Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top