Lompatan Nilai Ala Paulus(1 Korintus 7:25-40)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:30 | View : 416
manjump2steveharvey.jpg

Sulit untuk tidak berkata, ada kejanggalan, kalau tidak mau dikatakan ketidaksinkronan dalam ayatnya kali ini.  Bagaimana tidak, Paulus yang begitu gegap gempita dan teramat menghargai sebuah lembaga perkawinan dengan memerintahkan agar orang tidak bercerai, di ayat kali ini (1 Korintus 7:24-40), dia justru terlihat seperti hendak meniadakan, menyangkali lembaga kudus itu.  Kesan itu memang terlihat kuat, dan tidak sedikit orang di kekinian kemudian salah tafsir dengan maksud Paulus dalam mengunjukkan persoalan ini ke khalayak. 

Seperti telah berulangkali disinggung di bagian-bagian lain ayat dalam suratnya ini,  Paulus tengah menjawab permasalahan jemaat di Korintus, kasus demi kasus.  Soal Ini tentu saja salah satu yang coba dia jawab.  Persoalan kawin atau tidak kawin.  Persoalan keutamaan nilai dari sebuah tindakan menikah dan tidak menikah.  Kesan negatif memang begitu gamblang terpapar,terkait condongnya Paulus kepada pilihan yang mungkin tidak lazim bagi konteks saat ini, yakni tidak kawin.  Sepertinya kondisi tidak kawin teramat lebih bernilai, jauh lebih baik dan berharga daripada kondisi mereka yang telah kawin. 

Kesalahpahaman seperti ini memang wajar.  Tetapi Paulus pun tidak asal omong, tidak asal bicara, dia menyatakan hal ini dengan dasar yang kuat.  Apa yang dimaksud dengan hal-hal keduniawian dan “surgawi” pun sudah sangat jelas digambarkan.  Antara lain, persoalan perkawinan tadi. Di jaman yang sudah sepuh (tua, bhs.jawa), jaman yang sudah darurat, kata Paulus, dia menyarankan agar manusia tetap dalam keadaannya. Yang kawin tetaplah bersama pasangannya, sementara yang belum kawin, sedapat mungkin tidak perlu kawin (7:27).  Sekiranya dia hendak kawin pun bukanlah tindakan dosa (7:28).  Tetapi Paulus menyuguhkan fakta-fakta konkrit tentang penyatuan dua orang berlain jenis itu dalam rumahtangga.  Yakni:”orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani”, (7:28), band. Kej 3:16-19, tentang konsekuensi tindakan dosa berupa kesusahan hidup dan melahirkan.

Mengapa Paulus seperti kekeuh, ngotot betul hendak memisah-bedakan antara persoalan keduniawian dan kesurgaan dalam konteks perkawinan ini?  Ya, yang Paulus maksudkan sebenarnya pun sudah teramat jelas, apa kemanfaatan bagi diri, dan konsekuensi terhadap pilihan.  Suami-suami yang sudah menikah umumnya akan memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, begitu juga sebaliknya, demikian dikatakan Paulus (7:33), dan dengan demikian perhatiannya akan terbagi-bagi. Sementara mereka yang tidak berpasangan, yang tidak bersuami pun beristri, maka pikiran dan perhatiannya akan terpusat pada perkara Tuhan (7:34). 

Tanpa ada tendensi tertentu, tanpa ada kecenderungan dan maksud khusus, apalagi keinginan untuk memfotocopykan gaya hidupnya kepada umat, Paulus memberikan arahan, nasihat yang begitu berarti.  Mengajukan sudut pandangan yang lebih memiliki nilai surgawi, ketimbang sekadar bermaksud menyenangkan kebutuhan diri.  Sebab kecenderungan orang dependen, bergantung pada keduniawian dengan segala kenikmatannya begitu besar.  Untuk itu ada hal-hal penting yang coba dia tanamkan di jaman yang sudah tua, dalam waktu yang masih sisa ini, agar orang berupaya, berlatih dan belajar menyangkal diri dan kebutuhan diri, sama seperti Paulus anjurkan kepada umat di Korintus.    

Orang yang beristeri, hendaknya berlaku seolah-olah tidak beristeri(7:29); orang yang menangis seolah tidak menangis; dan bergembira seolah tidak bergembira; membeli seolah-olah tidak memiliki apa dibeli(7:30).   Sebuah tindakan yang mudah diucapkan, namun teramat sakit dilakukan.  Tindakan seolah-olah, namun dituntut kepenuhan diri melakukan layaknya laku sebenarnya. 

Semua ini dianjurkan Paulus sama sekali tidak bermaksud untuk membatasi orang.  Hal ini sudah dikatakannya begitu jelas dalam ayat (7:35).  Tetapi dilakukannya untuk memastikan bahwa umat di Korintus kelak tidak hidup dalam kekuatiran. Karena itu mereka dapat memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.  Supaya mereka dapat melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan, itu saja.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top