Ringkasan Pendalaman Alkitab (Keluaran 25:1-40)

Author : Pdt Nikodemus Rindin | Thu, 15 February 2018 - 15:29 | View : 107
biblestudy-1.jpg
  • Materi  PA                          : Keluaran 25:1-40
  • Topik                                  : Petunjuk untuk mendirikan Kemah suci, Mengenai Persembahan Khusus, Mengenai tabut perjanjian, Mengenai meja roti sajian, dan mengenai kandil
  • Narasumber                       : Pdt. Bigman Sirait

 

Dalam pasa 25 ini, kita memperhatikan bagaimana bangsa Israel mulai diajak untuk membentuk suatu rumah ibadah.  Konsep dari kehadiran Tuhan, jelas Tuhan hadir sebulm bait itu ada.  Sehingga apa pun yang dibuat di sini adalah merupakan ekspresi dari bagaimana manusia itu perlu beribadah sehingga dibuatlah suatu tempat ibadah beserta ketentuan-ketentuannya.  Tetapi soal kehadiran Tuhan, bukan berarti Tuhan berada di dalam kemah itu, karena hal ini ingin menyatakan bahwa ada pernyertaan-Nya dan Dia menyertai bangsa Israel itu.  Maka dipungutlah persembahan bagi semua orang yang terdorong hatinya setelah dipungut persembahan khusus pada-Ku itu.  Istilah mengeraskan hati dalam bagian ini tidak menunjuk lagi pada Firaun tetapi kepada orang yang sudah mengenal Tuhan.  Orang yang mengenal Tuhan dan tidak mengenal Tuhan memang ada beda hal.  Ada orang yang mengenal Tuhan memberikan nyawanya tetapi yang tidak mengenal Tuhan akan mengambil nyawa orang lain.  Jadi sebetulnya sudah ada perbedaan kualitatif sehingga untuk menjaga singkronisasi justru menjadi tidak singkron karena yang berbeda ini sudah berbeda dalam keberadaannya.  Yang satu mengenal Tuhan dan lain tidak mengenal Tuhan.  Apek yang kedua adalah, kalau orang itu betul-betul mengeraskan hati berarti orang itu mempunyai potensi lembut hati, tetapi Tuhan menggagalkannya dan ini mengerikan.  Namun memang orang yang menganut paham double predestinasi selalu menganut dua konsep yang demikian.  Tuhan yang menyelamatkan orang dan Tuhan yang sama itu membinasakan orang.  Padahal tidak harus seseorang dibinasakan, karena sejatinya dia sendiri telah binasa pada dirinya.  Yang binasa adalah orang-orang yang tidak dipilihnya, tetapi bukan dibinasakan.  Jadi konsep mengeraskan hati adalah bahwa Tuhan membiarkan hati seseorang tetap keras.  Kalau betul bahwa orang itu dikeraskan hati oleh Tuhan dan akhirnya orang itu mengeraskan hati, maka Tuhanlah yang harus bertanggung jawab atas kekerasan hatinya dan itu berarti, Tuhanlah pencipta dosa.  Paham yang demikian tentu sangat berbahaya sekali.

Ketika mereka terdorong hatinya untuk memberi, harus diingat bahwa ini adalah jemaat yang beribadah kepada Tuhan dan mereka mengenal Tuhan,  bukan orang-orang kafir yang tidak mengenal Tuhan sejak semula.  Pada waktu mereka mengumpulkan bahwa yang keluar dari Mesir adalah 600.000 orang dewasa, belum termasuk perempuan dan anak-anak.  Dan mereka inilah yang meminta kepada orang mesir dalam kata “merampasnya”  sehingga mereka tidak berdaya menolak untuk tidak memberikan kepada orang Israel.  Istilah merampas dalan hal ini adalah, apa pun yang mereka mau ambil, maka mereka mau dengan rela memberikannya.  Dan Tuhan membuat hati orang Mesir untuk merelakan sehingga tidak berdaya untuk menolak.  Jadi mereka pergi dari Mesir sudah dibekali oleh Tuhan, dan apa yang Tuhan sebut untuk dilakukan adalah sesuatu hal sudah ada pada mereka.  Penyediaan Tuhan bukan hanya untuk kebutuhan makan minum mereka namun juga untuk kebutuhan peribadatan mereka.  Pelajaran dari ini adalah kenapa harus bikin ini dan lain tidak? Kenapa harus dibuat detail karena memang Tuhan menginginkan keteraturan dan Tuhan tidak mau mereka menambah dan mengurangi dari segala hal yang telah Tuhan tetapkan bagi mereka untuk dikerjakan.  Itu penting!  Karena itu, jangan ada yang menambah dan jangan ada yang menguranginya.  Dalam bahasa persembahan yaitu diberikan penekanan, tidak bercacat cela dan yang sempurna.  Mengapa demikian?  Karena memang semuanya adalah milik Tuhan.  Ketika detail dengan sudut-sudutnya, itu adalah perintah Tuhan.  Tetapi pembangunan bait Allah ini masuk belum dalam bentuk permanen.  Karena dalam hari-hari pun kita dituntut untuk melakukan hal yang sama  bagi Tuhan.  Yang terbaik, sungguh-sungguh dan mau berlelah-lelah bagi-Nya, baik dalam pelayanan, pekerjaan, rumah tangga, studi dan lain sebagainya.  Kadang kita merasa terlalu repot, tetapi yang perintah siapa? Ia Allah yang hidup itu!

Bait Allah adalah symbol tentang kehadiran Allah.  Kalau Allah hadir di sana, kenapa mesti takut?  Nanti Tuhan yang mencukupkannya.  Tabut perjanjian adalah symbol kemuliaan karena bahan-bahannya menggunakan symbol kerajaan dan kemuliaan.  Unggu menunjukan kemuliaan, sama seperti Yesus yang dikenakan jubah ungu tanpa mereka sadar mereka sedang memperlakukan Yesus sebagai raja yang penuh kemuliaan.   Simbol-simbol yang ada dalam ingin merepresentasikan betapa Allah itu maha agung dan mulia.  Ia layak diagungkan dan sanjung tinggi.  Karena kita perlu memahami mana suatu symbol dan mana suatu hal yang selayaknya dan sepantasnya dilakukan.  Jangan sampai kita membuat suatu patung yang menyerupai apa pun lalu kita sujud kepadanya, meski pun patung itu menyerupai “Dia”.  Tindakan yang demikian adalah suatu penghinaan bagi Tuhan.  Sebab Allah itu maha adanya dan tidak terikat dengan suatu benda, symbol yang ada.  Barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan Kebenaran yang sejati.  Itu kita harus hati-hati dulu meskipun kerajaan Israel banyak diwarnai dengan symbol patung dan segala macam.  Dan orang tidak boleh terjebak di sana.  Benda-benda itu di tempatkan di ruang maha kudus (kemah sembahyang), sementara Pengakuan dosa yang rutin dilakukan di ruang kudus dan umat berada di pelataran bait Allah, sementara ruang maha kudus adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk berdoa satu tahun satu kali untuk umat yang dilakukan oleh imam besar.  Jadi tidak sembarangan orang bisa ke sana.  Lalu nanti ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, maka tirai ada ruang kudus dan ruang maha kudus itu terbelah.

Peristiwa ketika Usa yang berusaha menahan tabut Tuhan yang hamper jatuh namun dia sendiri mati karenanya.  Ini adalah symbol betapa kudusnya Tuhan, meski manusia pikir manusia bisa melakukan apa pun termasuk melakukan hal yang hebat dalam suatu kebajikan namun siapa kita yang boleh menolong Dia.  Karena Tuhan tidak perlu pertolongan kita dan sebaliknya kitalah yang butuh pertolongan-Nya. Ketika korban itu dipersembahkan, maka korban itu diletakkan dan ada juga yang boleh dimakan oleh imam.  Ini merupakan suatu ibadah dan ungkapan rasa syukur manusia kepada Tuhan itu.  Pola demikian diadopsi oleh kebanyakan suku bangsa dalam pontensinya sebagai manusia yang beragama dan berbudaya.  Berbudaya artinya hubungan dengan yang lain dan beragama artinya dengan Tuhan sang pencipta itu.  Potensi agama membuat manusia mencari sesuatu apa yang di luar dirinya, yaitu Tuhan sehingga muncul macam-macam konsep Tuhan dan seterusnya. Tuhan yang dianut agama adalah Tuhan yang mesti dikasi berkat (persembahan) atau sesajen dan seterusnya.  Jadi secara konsep keagamaan Israel telah lama memilikinya.  Namun menariknya bahwa apa yang dimiliki oleh Israel adalah suatu symbol dalam perjanjian Baru (2 Kor 3:14-15). Kaki dian adalah gereja yang harus menjadi terang dunia.  Ini menjadi symbol dan tak boleh lagi mundur karena kita sudah jauh maju dalam pemahaman.  Roti di meja sajian itu adalah symbol kehidupan.  Bahwa Yesuslah sumber kehidupan itu, yang digambarkan sebagai roti hidup.  Dialah roti dan air hidup itu.  Semua ucapan Yesus itu menunjukkan semua symbol-simbol Pl yang pernah ada dan dibuka-Nya satu persatu.  Darah-Nya adalah darah Domba, sebagai Domba yang satu kali untuk selama-lamanya, kalau dalam PL domba harus dikorbankan berkali-kali.  Sunat dalam PL adalah symbol Baptisan dalam PB, yang pernah Paulus sampaikan dalam Korintus.

Note: Ringkasan PA ini belum diperiksa oleh Narasumber

See also

jQuery Slider

Comments

Top