Selamat Sementara Atau Mati Abadi (Ibrani 12:16-17)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:09 | View : 152

“Selamat” Sementara atau Mati Abadi

“Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” (Ibrani 12:16-17)

Cabul, merupakan tindakan yang melanggar kesusilaan.  Sebuah laku sadar seseorang yang merusak kekudusan dirinya dihadapan Allah.  Tindakan dosa ini mendapat perhatian serius Rasul Paulus agar tidak dilakukan oleh jemaat Korintus.  Paulus mengingatkan betapa tindakan ini mengakibatkan dampak yang serius, lantaran terjadi bukan saja di luar diri pelakunya, tapi di dalam diri orang yang melakukan (1Kor 6:18). Percabulan mendapat perhatian serius Paulus juga lantaran tindakan ini sangat menjijikkan bagi Allah.  Lebih dari tindakan berdosa lainnya, karena menajiskan tubuh yang adalah bait Roh (1Kor 6:15-20).

Hal sama juga dilakukan oleh penulis surat Ibrani.  Kepada para penerima suratnya dia juga mengingatkan betapa  kata yang dalam bahasa yunani menggunakan istilah πορνος (pornos) ini sangat berbahaya bagi iman jemaat.  Sedikit berbeda dengan Paulus, penulis Ibrani sepertinya lebih menggunakan kata ini dekat dengan kata dasarnya, yakni πιπρασκω (piprasko), yang berarti “dijual  atau menjual”. Penggunaannya dekat dengan tindakan kedagingan seseorang yang secara sengaja “menjual dirinya” atau terjual menjadi budak bagi dosa (Rm 7.14).   Merujuk pada “nafsu yang rendah” Esau yang menjual menjual hak kesulungannya hanya untuk sepiring makanan.  Sesuatu yang sangat berarti bagi orang Yahudi, berdampak terhadap berkat diri dan keturunannya (hak kesulungan), menjadi pewaris janji Allah, hanya ditukar dengan “kenikmatan” perut yang sifatnya sangat sementara.   

Dengan menggunakan cerita Esau, yang sepertinya sudah familiar di telinga penerima suratnya, penulis ibrani kembali mengingatkan agar para penerima suratnya tidak lagi jatuh di lubang yang sama, “menjual” sesuatu yang sangat berharga (keselamatan) hanya demi “kenikmatan” sementara.  Seperti sudah diketahui dan berulangkali disebut di dalam artikel-artikel sebelumnya, bahwa penderitaan dan “isolasi” sosial yang dialami oleh penerima surat Ibrani membuat mereka ingin kembali kepada percaya mereka yang lama.  Keselamatan yang berdampak kekal, yang sudah mereka dengar dari para rasul hendak mereka gadaikan dengan “selamat” yang sifatnya sementara, selamat dari tekanan, dan penderitaan dunia.  Hal ini tentu saja membuang berkat mulia yang sudah menjadi milik sebagai ganti pemuasan nafsu (seperti Esau), bisa menyebabkan kehilangan berkat itu untuk selama-lamanya. Penulis Ibrani berharap hal seperti ini tidak terjadi kepada para penerima suratnya.  Jangan sampai ketika hendak menerima berkat itu kelak, mereka justru ditolak oleh Allah.  Atau ketika hendak bertobat dan mengakui kesalahan, kesempatan itu tidak ada lagi, bahkan sekalipun mereka mencari dengan bercucuran air mata tanda kesungguhan dan harapan besar untuk mendapatkan.

Melalui bagian suratnya, seperti juga disinggung dalam bagian sebelumnya, penulis Ibrani  berharap besar agar penerima suratnya dapat memahami kondisi yang dialami (penganiayaan dan tekanan) sebagai sebuah batu uji dari Allah.  Sebagai ganjaran yang mendatangkan sukacita, menghasilkan buah kebenaran, yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibr 12:11). Dengan begitu penderitaan tidak dirasa sebagai  “perangsang”  untuk segera menyelamatkan diri, segera keluar dari penderitaaan yang dialami, yang satu-satunya cara untuk keluar dari sana, menurut penerima suratnya adalah dengan menyangkali iman kepada Kristus juru selamat dunia. Pilihan seperti ini sepertinya membuat mereka “selamat”.  Tapi sesungguhnya itu hanyalah mengalihkan diri dari pencobaan sementara ( didunia) tetapi di saat sama menolak berkat keselamatan abadi Allah, yang berarti mendapat maut abadi. Slawi

 

Comments

Top