Bertahan Dalam Ketidakmapuan Ibrani 12: 9-13

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:08 | View : 128

Ibrani 12: 9-13

Sebagai seorang anak yang baik, kita tentu menghargai dan menghormati orangtua kita.  Meskipun kadang kita juga kecewa terhadap mereka, bahkan menyebut mereka jahat, menurut pandangan kita di kala masih kanak-kanak, yang berpikir orang tua tidak sayang lantaran tak memberi apa yang kita minta. 

Seringkali pikiran sama juga bersarang dibenak ketika orangtua menghajar kita lantaran berbuat suatu kesalahan.  Meski sakit, ketika hajaran itu dilakukan dengan tepat, dan orangtua memberitahu anaknya tentang kesalahannya, hal itu tidak membuat kita sebagai anak serta merta membenci orangtua. Meski kita mendapat ganjaran, orangtua tetap kita hormati sebagaimana mestinya.  Analogi ini yang dipakai oleh penulis Ibrani untuk menunjukkan maksudnya kepada penerima surat. Bukankah sikap seperti ini yang harus ditunjukkan penerima suratnya  ketika berhadapan dengan hajaran dari Tuhan.  Kalau orang bisa taat denga baik dan tulus kepada bapa atau orantua yang ada di dunia, bukankah sikap seperti ini harus lebih ditunjukkan, ketaatan yang demikian harus lebih diekspresikan kepada Bapa segala roh agar umatNya beroleh hidup (12:10).  Anggaplah aniaya dan derita yang dialami adalah sebuah ajaran dan didikan dari Tuhan.  Maka sikap yang harus ditunjukkan bukan lari dari didikan, tapi justru tetap berada dalam jangkauan pribadi yang mendidik, melekat padaNya agar tetap hidup, tetap selamat.

Hal ini bukan tanpa alasan, sebab mereka (orangtua) mendidik anaknya dalam waktu yang pendek saja, berdasarkan apa yang mereka anggap baik, sementara Dia, Allah Sang Akbar itu mendidik anakNya untuk kebaikan mereka, supaya tetap ada dalam kekudusan-Nya ( 12:10), tetap berada dalam jalinan relasi dengan Dia sang Kudus.  Namun alasan yang begitu kuat itu tetap saja sulit diterima.  Betapa tidak, ganjaran yang Dia berika, didikan yang Dia alamatkan kepada anak-anakNya seringkali justru menyesakkan.  Alih-alih membuat orang bersukacita,  ketika ganjaran atau didikan itu diberikan justru lebih sering membuat orang berdukacita (12:11).  Tapi itu bukanlah klimaks dari semuanya.  Ganjaran dari Allah pada akhirnya justru menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai  kepada mereka yang dilatih olehnya.  Namun orang sering hanya menyikapi secara negatif ketika berhadapan dengan ganjarannya, dan bukan maksud mulia Allah di balik ganjaran yang diberikan.  Padahal ketika orang sedikit lebih berpaling pada perspektif ilahi dalam setiap ganjaran yang ada, mungkin orang akan lebih memahami dan bersyukur atas ganjaran tersebut, sebab Allah sungguh masih mengasihi umatNya, dan mau umatNya itu tetap berada dalam rel yang ditentukan oleh Dia.  Tetap ada pada keadilan dan kebenaranNya.
 

Untuk itu, menyikapi beratnya ganjaran dan didikan oleh Allah, baik kepada penerima surat Ibrani, pun kita di masa kini adalah dengan menjaga diri tetap kuat, bertahan dalam gandengan Allah.  Tidak membiarkan diri berjalan dalam lemah gontai lantaran lutut yang  goyah (12:12).   Tapi berjalan tegak dengan berusaha sekuat tenaga untuk meluruskan  jalannya kaki.  Sehingga kaki yang pincang pun sebisa mungkin jangan terpelecok, tetapi menjadi semakin sembuh, kaki  menjadi lebih kuat, dan jalannya tidak gontai.  Sebuah gambaran dari penulis Ibrani tentang betapa sulitnya tetap berada dalam dan bersama Tuhan,  Untuk tetap tegak berdisi bersama Dia.  Namun niscaya itu sebua tidak sia-sia.  Slawi

Comments

Top