Pilihan Sikap Yang Tak Biasa (Ibrani 11:23-27)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:08 | View : 133

(Ibrani 11:23-27)

Sungguh nikmat rasa kuasa. Sama nikmatnya dengan nyamannya dimelimpahnya harta.  Kuasa dan Harta, benar-benar dua hal yang sangat didamba.  Maka tak heran banyak orang mengejar dan berlomba merasainya.  Bahkan untuk itu semua tak jarang orang menjadi terlupa tak lagi ingat mana cara yang halal digunakan dan mana yang haram dan dibenci Tuhan. 

Betul, Kuasa dan harta dapat membuat orang berada di tempat nyaman dan sudah barang tentu aman.  Setidaknya tak lagi ada yang perlu dikhawatirkan.  Apa yang mau dikhawatirkan lagi kalau semuanya sudah tercukupi.  Apa yang mau ditakutkan lagi kalau segalanya sudah tersedia di depan kaki.  Tinggal pakai dan nikmati, itu sudah.

Kemelekatan dengan Kuasa dan Harta sering membuat orang tak rela melepaskannya.  Baik dengan cara paksa atau ikhlas berlapang dada.  Maka lihatlah konflik keras mencuat ke permukaan lantaran orang masih ingin duduk di singgasana, sementara jabatan sudah tergantikan oleh penerusnya. 

Tapi hal itu tidak terjadi pada diri Musa.  Orang muda yang seharusnya mati ditangan tangan besi raja Mesir itu justru mendapat anugerah yang luar biasa.  Tak Cuma nyawa yang masih ada.  Tapi juga masuk dalam lingkaran nikmatnya kuasa dengan banyak harta.  Tidak hanya mendapat belaian mesra Ibu angkat di lingkaran Raja, tapi juga mendapat kasih sayang yang cukup dan penuh dari Ibu kandungnya.  Sungguh rasa hidup yang lengkap dinbikmati.  Di sana ada cinta, ada harta dan juga kuasa.  Bukankah itu yang banyak orang Cari dan ingini?  Tapi mengapa anak Israel yang miskin ini justru rela melepaskan itu semua?  Apa yang melatari perilakunya yang tak lazim itu?  Menarik, surat Ibrani mencatat dengan baik, apa yang menjadi latar mengapa Musa sampai rela melepas itu semua.  Jawabannya adalah Iman, ya Iman yang ada padanya. 

Iman itu membuat tokoh yang sangat dihormati oleh bangsa Israel, bahkan sampai saat ini itu menolak disebut anak puteri Firaun (11:24).  Sungguh sikap yang tidak biasa dari seorang muda.  Disaat banyak orang mencari dan mengejar, bahkan kalau mau meminta-minta diangkat anak oleh Firaun, orang satu ini justru menolaknya.  Lebih aneh lagi dia justru rela untuk menderita sengsara bersama umat Allah, daripada menikmati kesenangan dan kelimpahan harta dunia dari hasil dosa.  Dia lebih senang bersusah-susah, tetapi ada di jalan yang benar, daripada bersenang-senang memuaskan kebutuhan daging, yang sangat dekat kepada dosa. 

Lebih aneh lagi, penulis surat Ibrani menunjukkan betapa dewasa spiritual Musa, ketika dia lebih senang menanggung hina karena Kristus, karena ikut nurut maunya Bapa, dan menganggap itu sebagai kekayaan yang jauh lebih besar daripada yang bisa ua dapatkan dari keluarga angkatnya (11:26).  Lagi-lagi disini penerima surat Ibrani ditunjukkan dengan fakta bahwa ada orang beriman, bahkan tokoh yang mereka kagumi, Musa, adalah sosok yang mengarahkan pandang matanya bukan pada kenikmatan dan kenyamanan duniawai dengan segala kekayaannya, tapi pada upah yang jauh lebih besar di kehidupan kekal, nanti (11:26)

Bukan itu saja,  oleh Iman, Musa juga didorong untuk tidak menyayangkan nyawanya bagi kebenaran yang dipercayanya.  Bukan saja rela meninggalkan jaminan keamanan dari sang empunya kuasa dunia Mesir, Firaun, tapi bahkan ikhlas menjadikan nyawanya terancam oleh murka raja  (11:27).  Bukankah sikap seperti ini amat sangat berbeda dengan kecenderungan kita dewasa ini yang lebih senang berdekatan dengan sang empunya kuasa.  Dengan dekat dengan kekuasaan, maka diandaikan dekat dengan keselamatan dan keamanan. 

Sikap Musa adalah sikap yang bertolak belakan dengan semangat dunia.  Dunia mencari kuasa, dekat dengan kekuasaan; Dunia berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, Musa justru meninggalkan itu semua. 

Teladan dari tokoh yang nampaknya sangat disegani oleh penerima surat Ibrani ini diharapkan penulisnya dapat menginspirasi atau memantik iman mereka kembali.  Mendorong kembali untuk berbalik dari jalan yang berusaha mencari keamanan dan kenyamanan, tapi meninggalkan Tuhan, berganti dengan ikut dalam jalan yang penuh risiko, bahkan yang bisa mengancam kesejahteraan, keamanan dan kenyamanan diri, tapi ada pengharapan di akhir nanti.  Ya ada pengharapan dan upah besar menanti di kekelan nanti.  Slawi. 

Comments

Top