Dipelihara Dalam Kelemahan (2 Korintus 12:1-10)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 9 November 2016 - 13:44 | View : 478
kelemahan.jpg

(2 Korintus 12:1-10)

Sebuah dilema menanggapi orang yang gemar bermegah dan bangga diri, menunjukkan diri lebih unggul dari yang lain.  Membalas dengan ikut membanggakan diri, itu sama saja dengan masuk dalam perangkap kebodohan.  Setidaknya itu yang Paulus katakan (2 Kor 11:17).  Apa lacur, semakin didiamkan saja, tidak ditanggapi klaim kebesaran dan kemegahannya, maka kesombongannya akan semakin menjadi-jadi.  Dan lagi-lagi, dalam konteks pewartaan, maka akan sangat merugikan, karena kebenaran menjadi tereduksi.   Inilah yang Paulus alami.  Ada begitu banyak orang di masanya, khususnya orang-orang Ibrani yang mengaku sebagai pengajar Injil getol membanggakan diri dan pengalaman rohani.  Pengalaman rohani dijadikan sebagai barang dagangan, komoditi unggul yang menghasilkan banyak pundi-pundi dan simpati. 

Melalui suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus Paulus memberi balasan.  Paulus merasa harus bermegah, kendati itu tidak ada faedahnya (12:1).   Kalau orang gemar bermegah, membangga-banggakan pengalaman spiritualnya, Paulus sebenarnya bukan tak pernah mengalami.  Bahkan mungkin saja lebih hebat lagi, jika menggunakan ukuran untuk dimegahkan.  Penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang Paulus terima dari Tuhan memang sesuatu yang sepktakuler, jika dilihat dari perspektif itu. 

Menceritakan penglihatan yang dia terima, Paulus menyebut dirinya sebagai "seorang Kristen" (orang yang ada dalam Kristus) yang telah diangkat ke surga untuk menerima penyataan.  Kemungkinan yang dinyatakan Allah kepadanya adalah tentang Injil Kristus dan kemuliaan yang tak terkatakan dari sorga, yang tersedia bagi orang percaya (12:7; bnd. Rom 8:18; 2Tim 4:8).   Penyataan-penyataan ilahi yang supranatural ini ditunjukkan kepadanya seperti hendak meberi “jaminan” dan penguatan bagi mental dan spiritual Paulus dalam menjalani pelayanan Rasuli.  Terlebih kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan panjang dan berat. 

Bagi orang, terkhusus para pengajar-pengajar palsu, pengalaman seperti ini sudah cukup untuk dijadikan bahan jualan.  Ya, apalagi kalau bukan jualan pengalaman rohani.  Tapi beda dengan Paulus, mendapat penyataan dari Tuhan seperti demikian justru membuatnya gentar dan berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menceritakan kepada orang, apalagi membanggakan atau parahnya lagi justru dijadikan bahan jualan (12:6). 

Selain kuatnya Paulus berusaha, Paulus juga menyadari pertolongan dan pemeliharaan Allah yang turut menjaganya agar tidak meninggikan diri.  Yakni, dengan memberikan suatu duri di dalam daging, dalam diri Paulus (12:7).  Tak dijelaskan lebih lanjut apa makna “duri” oleh Paulus.  Kemungkinan besar, "duri" di sini menunjuk pada suatu kesakitan, kesukaran, penderitaan, penghinaan atau kelemahan fisik.   Bukan Paulus tak peduli terhadap persoalannya ini.  Tentang hal ini bahkan dia sudah meminta kepada Tuhan sebanyak tiga kali, namun keinginannya itu tak direstui Allah (12:8).  “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna"( 12:9 ).  Mendapat jawaban Tuhan seperti demikian, Paulus sadar, rela dan ikhlas menerima “duri” yang mendera dirinya.  Dia senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran,  di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab,  menurut Paulus: ”jika aku lemah, maka aku kuat” (12:10). 

Dari bagian ini kita bisa mencicip makna, betapa pemeliharaan Allah atas diri dan iman percaya seseorang sangatlah unik.  Tak melulu hanya dicekoki dengan berkat (materi), dengan yang enak-enak dan nikmat-nikmat saja, tak jarang juga diberikan ketidaknikmatan, ketidaknyamanan dan kesakitan dalam pemeliharaan-Nya.  Adalah pribadi yang punya spiritualitas dewasa jika memiliki kesadaran, bahwa kesukaran yang dirasa adalah bagian dari pemeliharaan Allah atas dirinya.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top