Bangga Atas Kelemahan (2 Korintus 11:22-33)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 9 November 2016 - 09:24 | View : 539
weaknesses.png

2 Korintus 11:22-33

Sebagai seorang abdi Allah, budak Allah, tidak terbersit niat Paulus untuk membanggakan karya pelayanannya.  Bagi Paulus entah itu hidup ataupun mati tiada lain kecuali untuk dan bagi Dia. Yang Utama bagi Paulus adalah ketika Kristus dimuliakan melalui diri Paulus, baik oleh hidup, maupun oleh matinya (Filipi 1:20).  Karena itu tidak alasan bagi Paulus untuk membanggakan apa yang telah dilakukannya.  Inilah pilihan ideal hidup Pelayan Allah yang patut diteladani.  Sudah seperti itu pun Paulus masih saja kerap dicurigai, difitnah dan dituduh macam-macam.  Ada begitu banyak tuduhan-tuduhan yang isinya mendiskreditkan diri Paulus sebagai pribadi atau dalam kaitan dengan jabatan rasulinya.  Tak berhenti di situ, para pemfitnah, yang notabene adalah guru-guru palsu juga sering membanding-bandingkan diri mereka dengan  Paulus.  Mereka juga kerap membangga-banggakan “karya” pelayanan yang sudah mereka kerjakan.  Bahkan membanggakan hasil pelayanan yang tidak pernah sama sekali mereka kerjakan (10:15). 

Kepada mereka yang gemar membangga-banggakan diri ini Paulus sebenarnya enggan menanggapi. Karena menanggapi mereka dengan ikut-ikutan membanding-bandingkan diri itu sama saja dengan ikut masuk dalam kebodohan.  Tapi, jika banyak orang (pelayan-pelayan palsu) kerap bermegah secara duniwai, maka Paulus, dalam kebodohan, terpaksa melakukannya (11:18).  Ini semata dilakukan bukan untuk mengunggulkan diri, meninggi-ninggikan diri, tapi untuk mencegah orang (guru-guru palsu) mengambil kesempatan untuk menyamakan diri mereka, menyamakan karya pelayanan mereka dengan apa yang dilakukan Paulus (11:12).

Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka Paulus pun terpaksa berkata dalam kebodohan -- berani juga ( 11:21).  Setidaknya ada tiga hal yang Paulus tunjukkan dalam upaya membandingkan dirinya dengan para guru-guru palsu:

  1. Soal Asal-usul Keturunan.

Kalau para guru palsu itu mengklaim bahwa diri mereka lebih unggul dengan status bangsa pilihan, dibanding banyak kristen baru yang bukan Yahudi asli, maka Paulus pun menunjukkan, bahwa dirinya pun berasal dari bangsa yang sama.  Dia orang Ibrani, orang Israel dan keturunan Abraham (11:22).

 

  1. Soal Jabatan dan Karya Pelayanan.

Ya, banyak dari guru Palsu itu mengklaim, bahwa mereka adalah pelayan Kristus.  Tentang hal ini, lagi-lagi Paulus berkata banyak dan tegas. Bahwa dirinya jauh, ya, jauh lauh lebih unggul dari mereka.  Paulus bukan abdi Allah biasa.  Sebagai abdi, Paulus lebih banyak berjerih lelah dari banyak pelayan Tuhan lain, apalagi para pelayan palsu yang memfitnah dirinya.  Bahkan dia jauh lebih banyak berkorban dalam pelayanan.  Bukan harta benda, tapi juga dekat dengan korban nyawa.  Dia  lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut (11:23).   Lima kali  disesah orang Yahudi, setiap kali disesah bahkan sampai hampir mati (11:24).  Tiga kali didera, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut (11:25).  Sering menghadapi bahaya yang beraneka rupa: bahaya banjir, penyamun, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu (11:26).  Lelah tubuh dan kekurangan asupan makanan pun kerap dialami, banyak berjerih lelah dan bekerja berat; sering tidak tidur; lapar; dahaga; kerap berpuasa; kedinginan dan tanpa pakaian (11:27).

Benar, semua yang dialami Paulus adalah kekurangan bagi banyak orang.  Apalagi di konteks kekinian, kalau ada pelayan Tuhan yang kekurangan, bahkan kerap dilabeli tidak beriman.  Atau dianggap pelayan yang tidak diberkati.  Kalau pelayan yang diberkati pastilah lancar-lancar saja dalam melayani.  Sungguh betapa dangkal model berpikir seperti ini. 

Ya, tak mengapa, Paulus pun menganggap apa yang dialami juga sebagai kelemahan. Tapi bagaimanapun itu, Paulus mengangap bahwa tak ada dari dirinya yang patut dibanggakan kecuali kelemahannya itu.  Kalau ingin bermegah, maka Paulus ingin bermegah atas kelemahannya (11:30).  Pengalaman yang justru menunjukkan betapa besar kasih setia dan pertolongan Allah dalam kelemhannya itu. Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top