Bermegah Di Dalam Tuhan (2 Korintus 10:12-18)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 27 October 2016 - 13:47 | View : 504
19-juni-rmt-300x300.jpg

2 Korintus 10:12-18

Membanggakan diri dan karya yang dilakoni, itu sah-sah saja.  Siapapun orangnya monggo saja.  Tetapi seyogyanya bangga atau bermegah ada dalam ranah, cara dan sikap yang tepat.  Hal ini yang coba Paulus utarakan dalam bagian suratnya kepada jemaat Korintus.  Bermegah dengan cara dan sikap yang tepat itu seperti apa?

Pertama, Paulus menunjukkan agar tidak bermegah atau berbangga layaknya orang bodoh.  Orang bodoh berbangga diri atau memegahkan diri dengan cara menilai diri sendiri dengan ukuran yang dibuatnya sendiri;  dan membandingkan diri dengan dirinya sendiri (12). Sulit dinalar ada orang bisa mengklaim penilaian atas dirinya itu benar obyektif dengan menggunakan alat ukur yang dia buat sendiri.  Bukankah alat ukur seperti demikian besar potensinya akan dibuat  dengan menyelaraskan pada kelebihan diri, keunggulan diri, atau setidaknya sesuatu yang tidak bertentangan dengan kenyamanan diri.  Belum lagi jika melihat pada realita bahwa sesungguhnya tidak ada hal di dalam diri yang sepenuhnya dimengerti oleh diri.  Ada kalanya orang lain justru mengerti bagian yang diri tidak mengerti.  Karena itu ukuran yang dibuat oleh diri besar kemungkinan tidak dapat mendapatkan hasil yang obyektif. 

Menilai diri dengan ukuran sendiri sebenarnya lebih menunjukkan bahwa seseorang itu tidak ingin zona nyaman dirinya dilangkahi.  Menunjukkan betapa keinginan atau keegoisan diri lebih kuat mempengaruhi, sehingga menekan keliyanan. Menunjukkan bahwa sebenarnya orang yang seperti dimaksudkan Paulus ini belum tersentuh atau belum mau mengikatkan diri pada suatu ukuran yang lebih solid, pada prinsip yang lebih kuat dan tegas, yakni firman suci.   

Alat ukur yang bisa dipakai untuk menilai diri seyogyanya tidak hanya ada dari perspektif diri, tapi juga persepsi di luar diri (orang lain), dan jauh lebih baik lagi jika ditambah dengan sesuatu yang melampaui diri, sesuatu yang lebih universal lagi, yang niscaya mendapat sudut pandang yang kebih luas lagi dalam menilai.  Apalagi kalau bukan Firman Suci.

Sama bodohnya dengan cara membandingkan diri dengan diri sendiri (12).  Sebuah tindakan yang sesungguhnya tidak sedang membandingkan, tapi justru sikap narsistik, atau bangga berlebih terhadap diri.  Membandingkan diri dengan diri semakin mengukuhkan keesklusifan diri.   Maka tak berlebihan kalau Paulus menyebut sikap mereka ini adalah sikap yang bodoh!(12)

Selanjutnya, Paulus menyarankan agar orang yang berkeinganan bermegah atau berbangga, seyogyanya berbangga di dalam Tuhan (10:17).   Di sini bukan berbangga lantaran kepuasan pada prestasi itu sendiri, tapi karena keberhasilan atau prestasi yang di dapat adalah berkat campur tangan ilahi.   Bermegah dalam Tuhan juga berarti bermegah dalam kejujuran. Artinya, silakan saja orang bermegah, silakan saja berbangga atau membanggakan sesuatu tapi sesuatu itu benar-benar dilakukan atau kerjakan.  Dan bukan sebaliknya, mengklaim hasil karya orang sebagai buah prestasinya, seperti yang terjadi di Korintus.  Di mana para pemfitnah Paulus justru teramat bangga dengan klaim mereka, bahwa jemaat Korintus adalah hasil karya dan pekerjaan mereka (tersirat dari 2 Kor 10:13-16).  Padahal semua orang tahu, bahwa Korintus adalah buah pelayanan Paulus.   Tentang klaim atas hasil pelayanan sebenarnya Paulus tidak terlalu mempersoalkan, karena toh dia percaya, bahwa ada yang menanam, ada yang menyiram dan ada Allah yang memberi pertumbuhan: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”( 1 Kor 3:6).  Tetapi yang membuat miris adalah ketika orang mengklaim bahwa itu adalah buah prestasinya sendiri.  Ketika bermegah dan berbangga diri bahwa jemaat itu adalah hasil pelayanannya sendiri.  Seolah meniadakan ada kontribusi besar dari Allah yang memberi pertumbuhan, pun orang lain yang mungkin menanam atau bahkan menyiram. 

Di sini orang diingatkan kembali tentang betapa penting mengerti bahwa di setiap aspek hidupnya, terutama keberhasilan dan prestasi, ada peran serta orang dan Tuhan di dalamnya.  Dengan menyadari hal ini niscaya akan menolong orang untuk sadar posisi, bahwa sesungguhnya diri ini bukanlah apa-apa tanpa adanya Dia yang berkuasa.  Hal ini membatasi diri, menolong diri, untuk tidak lekas berbangga, tidak lekas jumawa apabila sedang beruntung atau berhasil.  Menolong diri untuk tidak cepat-cepat bertepuk dada sembari berkata “aku bisa”, lalu memuji diri bahwa ini semua karena aku ini.  “Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan (10:18).”  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top