Menjawab Tuduhan Pengajar Palsu (2 Korintus 10:1-4)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 27 October 2016 - 13:36 | View : 437
aliran-ajaran-sesat-menyimpang.jpg

2 Korintus 10:1-4

Surat pertama Paulus terhadap Korintus rupanya dimaknai berbeda oleh penerimanya.  Surat bernada sangat keras menghantam dan menelanjangi setiap dosa yang diperbuat Korintus justru dianggap sebagai cara Paulus untuk menyembunyikan diri.  Korintus menganggap Paulus hanya berani ketika dibelakang layar.  Hanya berani jika ada sesuatu yang menutupi mukanya.  Ketika berhadapan langsung, maka Paulus diniliai tak berani berbuat banyak.  Surat teguran kepada jemaat Korintus dimaknai sebagian orang sebagai cara pengecut menyembunyikan diri, seolah-olah Paulus hanya berani berbicara keras kalau dia berjauhan dari jemaat yang dilayani (10:1).   Paulus dituduh sebagai seorang yang hanya keras dan berani dalam surat, tetapi tidak berani atau lemah bila sudah berhadapan muka.  Sungguh membuat hati miris, alih-alih Korintus sadar dengan banyak dosa yang telah dibukakan oleh Paulus, respons yang ditunjukkan justru menuduh balik Paulus. 

Betapa berat beban moral yang harus ditanggung Paulus dalam melayani orang-orang yang tegar tengkuk ini.  Sudah teramat berat beban mewartakan kabar kebenaran dengan segala macam risiko dan derita yang dialami, ditambah lagi dengan beban hinaan dan tuduhan yang diterima. Parahnya lagi, tuduhan itu justru ditiupkan oleh para pengajar-pengajar (palsu) jemaat. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mempengaruhi sebagian besar jemaat Korintus agar tidak lagi percaya, tidak lagi membuka diri bagi pelayanan Paulus.  Kemungkinan besar motivasinya tidak jauh dari urusan materi, berusaha menjaga sedemikian rupa agar tetap dapat mendominasi  pundi-pundi umat yang terbilang kaya di masanya.

Tidak cukup satu, para pengajar Palsu ini juga menuduhkan soal lain kepada Paulus. Ketegasan Paulus dalam suratnya: mengungkap banyak sekali dosa, juga keinginan Paulus untuk segera datang ke Korintus, termasuk niatan untuk bertindak keras kepada orang-orang tertentu dianggap menerapkan cara-cara duniawi (10:2).  Dengan dalih yang direkayasa seperti ini Paulus dituduh kemudian dilabeli telah menggunakan cara-cara duniawi dalam melayani.

Meski menohok cukup keras, mencoba menghancurkan kewibawaan Paulus dan pelayanannya, namun Rasul Kristus satu ini dengan sangat bersahaja menanggapinya. Dengan gaya bahasa satir Paulus bahkan sengaja mengulang (seolah menegaskan) kembali tuduhan yang mereka alamatkan kepadanya. Seolah ingin mengatakan bahwa tuduhan itu salah alamat.  Sebab dirinya bukanlah orang yang lain di belakang, beda pula ketika di muka.  Paulus menjaga benar integritas dan kewibawaan pelayanannya.  Karena akan sangat berpengaruh kepada kabar yang diwartakan.  Kalau Paulus di kesehariannya tidak bisa dipercaya, maka orang akan menyangsikan, bahkan sulit  percaya akan apa yang dikabarkannya.

Bukan Paulus tidak bisa berbuat sekehendak hatinya.  Bukan Paulus tidak bisa bertindak keras sesuai dengan syhawat emosinya, tapi segala sesuatu dilakukan dalam pertimbangan yang sangat matang.  Sikapnya ini juga menunjukkan wibawa rohani yang dimiliki.  Respons Paulus terhadap tindakan para pengajar palsu menunjukkan bahwa benar ia punya wibawa itu.  Kuasa yang di miliki bukan untuk digunakan denganb cara sembarang, apalagi hanya untuk memenuhi kebutuhan pemuasan diri.  Tapi digunakan dengan sangat hati-hati ketika melayani, demi dan untuk kepentingan kemajuan Injil dan manfaatnya bagi jemaat.  Kuasa itu bisa dipakai dengan sangat dinamis, tergantung kebutuhan pelayanan.  Adakalanya, seperti ditegaskan Paulus, bahwa ia bisa datang tidak dengan lemah lembut tapi dengan keras, lagi-lagi ada tujuan yang jelas, yakni demi dan untuk menegakkan wibawa Allah sendiri dan mengarahkan (menundukkan) jemaat pada kebenaran firman Tuhan.

Selanjutnya, menjawab tuduhan dia menggunakan cara-cara duniawi, Paulus tidak menyangkal kalau dirinya memang masih tinggal di dunia, tapi bukan berarti dia nurut apa gaya dunia.  Benar dirinya masih hidup di dunia, namun tidak berarti dia juga berjuang dan melayani dengan cara-cara dunia (10:3). Sebab Paulus mengakui, satu-satunya kuasa dan senjata dalam berjuang bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah sendiri (10:4).  Slawi

See also

Comments

Top